Menuju Proses Belajar yang Alami & Efektif

Paul E. Dennison

Sebelum tahun 1450, orang terpelajar adalah mereka yang tahu menggunakan tangan mereka dalam menguasai suatu keterampilan; sebagai tukang roti, penjahit pakaian, tukang sepatu, dan sebagainya. Seorang pemuda biasanya melewatkan masa2 mudanya dengan bekerja dekat dengan seorang guru yang mengajarinya keterampilan kinestetik profesi. Kecuali dia seorang biarawan, orang muda ini tidak pernah merasa perlu belajar menulis atau membaca. Saat itu buku belum ada kecuali dalam bentuk kumpulan kertas tulisan tangan yang dijilid, yang dijaga dengan ketat dan dibaca secara bergilir di kalangan kelompok elit. Hampir semua informasi disampaikan secara oral, yang berarti bahwa bercerita dan mendengarkan merupakan keterampilan yang amat dihargai.

Pada tahun 1450, Johannes Gutenberg menemukan mesin pencetak yang melahirkan cara belajar yang baru. Karenanya, tanda inteligensi seseorang bergeser dari keterampilan fisik menjadi kemampuan membaca kode tercetak. Pergeseran besar itu masih terus mempengaruhi kita sampai hari ini.

Selama berabad-abad, melek huruf dan kemampuan membaca dan menulis bergeser kedudukannya dari suatu bentuk seni spesialisasi yang dikuasai oleh beberapa orang menjadi persyaratan kompetensi yang diberlakukan pada semua orang. Diciptakanlah sekolah sebagai institusi formal untuk melakukan pengajaran. Bersama itu pula muncullah istilah anak bodoh, lambat belajar, terbelakang, penderita gangguan konsentrasi, dan sebagainya.

Selama berabad-abad, nenek moyang kita belajar dengan suatu cara alami yang bebas melalui contoh, gerakan, dan meniru. Untuk bertahan hidup, orang harus secara fisik menguasai lingkungannya. Keterampilan berharga diwariskan dari generasi ke generasi, dari ayah kepada anak laki-laki, dari ibu kepada anak perempuan, dan melalui kerja magang. Adalah tradisi bahasa oral, termasuk mendongeng, ritual dan nyanyian yang menjadikan sejarah dan pelajaran2 tetap hidup. Seni, musik, dan tari memberikan konteks visual, pendengaran, dan kinestetik bagi seseorang sehingga dia tahu di mana tempatnya berada.

Sejak awal peradaban, simbol2 semacam itu telah membantu seseorang dalam menggambarkan pengalaman hidupnya untuk anak cucu. Simbol ini penting bagi kesadaran kita, baik dalam keadaan terjaga maupun bermimpi dengan memberikan suatu kontinuitas dan makna pada hidup kita. Namun seiring perkembangan buku dan sarana elektronik, praktik pendidikan malah menempatkan kereta di depan kudanya; lupa bahwa anak2 harus mendapatkan pengalaman hidup yang nyata dan dibiarkan menciptakan kembali simbol dan bahasa mereka sendiri.

Pendidik sekarang mengharap anak2 membaca, menyandi simbol, dan menguasai fakta tanpa mengembangkan terlebih dahulu suatu konteks yang bermakna untuk menyimpan dan menarik lagi informasinya – bahkan anak2 kita tidak diarahkan untuk memiliki pengalaman konkrit yang dapat dipakai untuk menghubungkan simbol2.

http://1.bp.blogspot.com/_JfhFFQJtGeU/SdmiMqV3rXI/AAAAAAAAAAM/EqY01QkeU80/S269/07032009(001).jpg

Saat ini kemampuan membaca lantas dianggap sebagai sebuah kemampuan alami, sama seperti berjalan. Mereka yang belum bisa membaca sebagaimana anak2 seusianya dibilang malas, kelainan, cacat mental atau sebutan buruk yang lain. Pendidik pun mulai menerima pembelajaran sebagai tindakan mental yang hanya melibatkan intelek. Tujuan pendidikan terus dan melulu berkembang sebagai kemampuan untuk memperoleh dan menggunakan informasi.

Padahal aslinya, kemampuan akademik seperti membaca, menulis, mengeja dan aritmatika seperti yang kita kenal sekarang ini berkembang dari interaksi yang riil antara diri kita dengan orang lain maupun benda serta segala sesuatu di sekitar kita. Sains, aritmatika, dan cara kita berpikir itu sendiri sesungguhnya berakar dari jasmani. Seorang anak dikatakan siap untuk belajar memahami hitungan manakala dia mulai dapat menghubungkan angka dengan jari-jarinya sendiri. Interaksi sang pembelajar dengan dunia fisik konkrit akan berikan perasaan siap-terhubung dengan sifat2 dunia seperti ukuran, berat, massa, jarak, gravitasi, dan sebagainya. Dan semua ini idealnya dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, dalam sensasi permainan.

Tapi sayangnya tidaklah demikian yang terjadi di sekolah kita saat ini. Sekolah konvensional yang saat ini ada sesungguhnya mengikuti model pabrik dari pendidikan yang asalnya dari Jerman dan Prusia dan kemudian seluruhnya diadopsi oleh para pendidik Amerika selama revolusi industri. Persis seperti sistem pabrik yang memiliki jadwal, produksi massal, dan standardisasi, anak-anak mulai dikelompokkan menurut usia, kemampuan, lalu diuji dan dinilai seakan entitas produksi yang memilik bentuk sama, untuk menjadi lulusan yang berpikiran dan berciri sama. Dalam model ini, kita menempatkan murid dalam suatu lingkungan yang meniru apa yang akan mereka temui sebagai orang dewasa di tempat kerja -dunia jadwal dan evaluasi, banyak ketegangan, dan sedikit waktu untuk kreativitas, spontanitas atau individualitas.

Program ujian resmi dari pemerintah dengan himbauan untuk menjaga ‘akuntabilitas’ telah mengubah sekolah menjadi pabrik. Ketika guru, kepala sekolah, dan dewan sekolah hidup dalam ketakutan kalau2 sekolah mereka mendapat pangkat rendah dalam ujian standar/nasional, mereka akhirnya lebih menghargai ujiannya daripada si murid. Ketika orang tua hidup dalam kecemasan kalau2 anak mereka tidak lulus ujian, mereka akan terus menekan si anak agar berprestasi dan menyesuaikan diri, bukannya menciptakan suasana yang kondusif untuk pembelajaran alami berdasarkan kecepatan belajar anak itu sendiri.

Lebih jauh lagi, kebudayaan kita cenderung memandang pendidikan sebagai suatu cara menyediakan informasi kepada murid2 dalam bentuk ‘jawaban’. Masalahnya, kita terus menyodorkan beragam jawaban kepada mereka2 untuk pertanyaan2 yang bahkan belum mereka ajukan. Karena sejak awal murid2 kita tidak diarahkan untuk terus memelihara rasa penasaran, keingintahuan yang melahirkan pertanyaan2 yang penting bagi pembelajaran.

“Mengajar demi ujian” menghasilkan penipuan di pihak sistem sekolah. Memberi murid jawaban yang benar untuk pertanyaan2 yang akan muncul dalam tes, agar prestasi sekolah terlihat bagus, sama dengan menipu – terutama bila pertanyaannya bahkan belum diajukan oleh si murid. Dengan mengikuti praktik ini, kita menipu anak2 kita, menipu penilai ujian, dan ujung-ujungnya menipu masyarakat kita. Pendidikan bukan hanya tentang memajukan populasi yang tidak bergerak, tidak memerhatikan, atau tidak berpikir untuk dirinya sendiri. Namun dalam pendidikan umum sekarang ini, kita mempunyai anak2 yang tidak bisa menyelesaikan masalah, tidak bisa mengambil keputusan, dan tidak bisa berpikir untuk dirinya sendiri.

Jika tujuan sekolah hanya untuk belajar agar lulus ujian dan menggarap soal-soal ujian tahun lalu -tanpa nyanyian, tarian, atau pentas drama kreatif- bagaimana murid bisa melihat banyak alasan untuk datang? Mereka dicabut dari pendidikan yang benar, dan masyarakat kita mulai menciptakan masa depan yang terpuruk dengan membuang sumber dayanya yang paling berharga.

http://mimadrasahmerdeka.files.wordpress.com/2009/11/dsc00174.jpg

Sekolah yang ideal adalah tempat di mana sang murid TELAH mengalami dan bukan sekedar membaca tentangnya. Untuk mencapai pendidikan yang lebih alami, anak2 muda kita perlu diberi pengalaman sebagai makhluk yang utuh semenjak awal – dengan musik, seni, dan berjalan di alam terbuka. Manfaat potensial dari setiap pencarian yang melibatkan gerakan dan kreativitas itu tidak terbatas. Pada usia tujuh tahun, otak anak sudah terikat kuat dengan 80 persen dari segala sesuatu yang pernah ia ketahui. Semua pertumbuhan neural berikutnya dibangun di atas jalur2 awal itu.

Seorang arsitek yang hebat, umpamanya, dapat melacak kembali keberhasilannya ke rumah-rumahan yang ia bangu pada usia tiga tahun bersama pamannya. Sesuatu yang bersifat pengalaman telah terbentuk di dalam sirkuitnya pada waktu itu, sesuatu yang tidak akan pernah dapat diberikan oleh perkuliahan di jurusan arsitektur. Kita sepatutnya memberikan kepada anak2 kita situasi yang kaya pembelajaran di mana jalur2 neural semacam itu dapat terbentuk. Dan kita tidak akan bisa mencapai hal ini manakala kita terlalu mengagungkan analisis, keteraturan dan kerutinan dengan mengorbankan permainan dan imajinasi.

Paul E. Dennison adalah pakar dunia di bidang keahlian kognitif dan bacaan, pengembang bidang pembelajaran berdasarkan gerakan yg sekarang dikenal sebagai Educational Kinesiology.