Tag Archives: cita – cita

Bingung Karena Minim Info

Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit dan kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina. Namun pada implementasinya, menuntut ilmu untuk mewujudkan cita-cita tidaklah seperti jalan tol yang lurus tanpa hambatan dan belokan. Hampir setiap orang mungkin pernah mengalami berbelok dari cita-cita yang diimpikan sejak kecil.

SEJUMLAH siswa menyimak penjelasan dari mahasiswa di salah satu stan pada Edu Fair 2010 di SMAN 5 Bandung, Jln. Belitung, Kota Bandung, Kamis (14/1).
*USEP USMAN NASRULLOH/”PR”

Sebut saja, Nabillah (16), siswa kelas XI-J SMAN 5 Bandung. “Waktu kecil sih inginnya jadi astronot, tapi kan ternyata di Indonesia profesi astronot tidak terlalu populer. Nah sekarang belum tahu deh pengen jadi apa,” katanya ketika ditemui di acara Edu Fair SMA 5 Bandung, Kamis (14/1).

Hal serupa dirasakan Resti (16), kelas XI-E SMAN 5 Bandung. Masih kaburnya keinginan masa depan jelas membuatnya bingung untuk menentukan ke mana ia akan meneruskan pendidikan selepas SMA. Begitu juga dengan Rizky (17). Meski sebentar lagi harus menanggalkan seragam putih abu-abu, Rizky belum tahu langkah selanjutnya.

Hingga saat ini, pendidikan tinggi tetap masih merupakan gerbang awal penentu karier seorang pelajar di masa yang akan datang.Seperti diungkapkan Ramdhani (17), kelas XII-G SMAN 5 Bandung. Dhani sudah mantap menjadikan prodi pertambangan di Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai pilihan utama untuk jenjang sarjana. “Saya dapat informasi dari berbagai sumber bahwa peluang kerja dan bisnis pertambangan sangat menjanjikan, jadi saya ingin masuk prodi pertambangan,” ujarnya.

Kendati demikian, banyak pelajar yang masih bingung menentukan pilihan akibat kurangnya informasi yang mereka dapat, karena mereka menunggu informasi itu datang.

Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Humas SMAN 5 Bandung, Mudjiono membenarkan hal tersebut. “Di sekolah kami saja, sedikitnya empat puluh persen siswa kelas XII masih belum tahu akan kuliah ke mana,” tuturnya.

Hal itu, kata Mudjiono, tidak terlepas dari minimnya informasi yang masuk pada para siswa. “Itulah yang mendorong kami untuk mengundang kalangan perguruan tinggi dalam ’Edu Fair SMAN 5 Bandung’. Tujuan utamanya untuk memberikan informasi seluas-luasnya pada siswa tentang perguruan tinggi favorit yang akan mereka pilih,” katanya.

Seperti tahun sebelumnya event anual ini masih menghadirkan 22 perguruan tinggi negeri dan swasta, serta 11 konsultan pendidikan dalam dan luar negeri. “Sebenarnya banyak institusi lain yang berminat, tetapi karena tempat terbatas, terpaksa kami tolak,” kata Mudjiono.

(oleh : Handri Handriansyah, dari harian umum Pikiran Rakyat)

Sasaran Yang Efektif

Ayoooo.. Kita Belajar!

Setelah kita tahu seberapa pentingnya motivasi, lalu apa itu motivasi, bagaimana menumbuhkan motivasi dan mengetahui jenis – jenis sasaran. Kali ini kita akan membahas mengenai ” Sasaran Yang Efektif”.

Tentunya seringkali kita menginginkan sesuatu atau ada hal – hal yang ingin kita capai di masa depan nanti. Seringkali kita menyebutnya sebagai cita – cita. Yang istilah lainnya adalah sasaran. Dalam belajar pun jika kita ingin sukses, tentunya harus memiliki sasaran. Tapi, sasaran yang seperti apakah yang baik itu? atau sasaran yang mungkin dapat kita capai atau sering kita sebut dengan istilah “sasaran yang efektif”.

Suatu sasaran akan efektif bila memenuhi kriteria : spesifik, terukur, realistik, dan fleksibel.

Spesifik
Sasaran kita haruslah terdefinisi dengan jelas, dengan kata lain ia harus spesifik. Sasaran untuk “belajar kimia lebih giat” tidak spesifik. Kita dapat membuat lebih spesifik dengan sasaran “belajar kimia 8 jam setiap minggu” karena kita bertatap muka dengan pengajar di kelas dalam seminggu sebanyak 4 jam, misalnya. Akan lebih spesifik lagi jika kita dapat menentukan pada hari apa akan belajar kimia dan bab mana saja yang akan dipelajari.  Sasaran yang tidak spesifik akan membuat kita kehilangan fokus untuk mencapainya.

Terukur
Keterukuran adalah kriteria berikutnya dari suatu sasaran. Cukup mudah untuk mengetahui apakah kita “sudah belajar kimia selama 8 jam dalam seminggu”. Sasaran “untuk belajar kimia lebih giat” tidak mudah diukur. Sasaran yang terukur akan membantu kita untuk melihat kemajuan yang telah dicapai dan menjaga motivasi tetap tinggi. Keterukuran sasaran dapat dilihat dengan melihat target waktu penyelesaiannya.

Realistik
Dapatkah kita mencapai sasaran yang ditetapkan? Kadang – kadang kita menetapkan sasaran yang tidak realistik misalnya menaikkan IPK dari 2,0 menjadi 3,5 dalam satu semester. Secara matematika sasaran ini tidak mungkin dicapai dalam satu semester. (tapi, mungkin saja untuk jangka waktu empat tahun.)
Lebih realistik bila kita menetapkan bahwa pada semester yang sedang berjalan, kita merencanakan memperoleh nilai Fisika Dasar II : B dan Kimia Dasar II : A, sehinggas kita termotivasi untuk belajar lebih baik dan lebih teratur untuk ketiga mata kuliah ini.

Fleksibel
Jangan terlalu kaku dalam mencoba untuk mencapai sasaran yang kita tetapkan. Terkadang pada saat kita sedang menuju suatu sasaran perlu dibuat penyesuaian. Katakan kita telah menetapkan sasaran untuk mendapat nilai A untuk mata kuliah Kimia Dasar II. Tetapi kita jatuh sakit sehingga tidak dapat mengikuti kuliah selama dua minggu. Pada ujian tengah semester yang dilakukan dapat setelah kita sakit, nilai yang kita peroleh sangat rendah sehingga nilai akhir C sudah merupakan keberuntungan.
Daripada menyalahkan diri sendiri karena sasaran tidak dipenuhi, kita sebaiknya fleksibel dengan mengubah sasaran menjadi mengejar materi yang tertinggal selama kita sakit dan memahami bahan kuliah secara keseluruhan. Jadi jangan terpaku pada nilai A. Toh, kita bisa menebusnya di mata kuliah yang lain. Nilai itu penting, tapi bukan segalanya. Percayalah.

Yap, itu dia kriteria sasaran yang efektif. Naah, itu artinya sekarang temen2 dapat menentukan sasaran yang efektif dalam belajar buat temen2 sendiri.

Tips ini ngga akan ada manfaatnya kalau tmen2 ngga melaksanakannya,

so just do it..

Memilih Program Studi

Untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tinggi, seorang calon mahasiswa terlebih dahulu harus dapat mengukur kemampuannya, menentukan bidang apa yang diminatinya, menentukan jenis program pendidikan yang diinginkannya, dan mencari informasi mengenai perguruan tinggi mana yang menyelanggarakan bidang yang diminatinya tersebut. Termasuk menanyakan pada dirinya, apa yang menjadi cita-citanya? Keahlian apa yang diperlukan bila seorang mahasiswa memilih karir tertentu? Apakah calon mahasiswa yang bersangkutan ingin belajar jauh dari orangntuanya? Berapa dana yang dibutuhkan? Pendeknya, ada beberapa yang yang dapat digunakan sebagai pertimbangan ketika akan memilih suatu perguruan tinggi, antara lain bidang studi, jurusan, biaya, reputasi perguruan tinggi yang bersangkutan, status akreditasi, fasilitas pendidikan yang tersedia, serta kualitas dan kuantitas dosen yang dimilikinya.

Bidang Studi hal pertama yang harus diperhatikan para calon mahasiswa adalah minat yang akan berkaitan dengan bidang studi yang hendak ditekuni oleh calon mahasiswa. Untuk memilih bidang studi ini, jangan segan-segan utnuk mencari informasi termasuk kepada orangtua, teman maupun guru. Lebih baik lagi jika bertanya kepada orang telah terjun langsung ke dunia kerja di baidang yang diminatinya. Intinya adalah pastikan bahwa calon mahasiswa atau orangtua mengerti benar tentang perbedaan antara satu bidang studi dengan bidang studi yang lain, terutama bidang studi yang memiliki kemiripan.

Untuk mendapatkan informasi mengenai bidang studi di perguruan tinggi, calon mahasiswa dapat memanfaatkan fasilitas Internet, melalui website-website dari perguruan tinggi yang dituju. Atau dapat juga melakukan pencarian dengan Google dan bertanya melalui mailing list.

Salah satu hal yang sangat penting lainnya adalah pertimbangan biaya kuliah. Sebaikan terlebih dahulu bicarakan dengan orang yang akan membiayai kuliah, atau telilti keadaan keuangan yang dimiliki bila akan membiayai kuliah sendiri. Sesuaikan jumlah dana yang tersedia dengan biaya kuliah di perguruan tinggi yang akan menjadi pilihannya. Buatlah rencana pembiayaan untuk melihat jumlah dana yang tersedia selama masa studi. Jangan mengandalkan pekerjaan sampingan. Pastikan bahwa dana yang dimiliki cukup untuk membiayai kuliah sampai selesai. Risiko apabila dana tidak mencukup adalah kerugian yang cukup besar, yaitu dana yang telah dikeluarkan sudah banyak, waktu terbuang percuma dan kuliah tidak selesai.

sumber: dikti

Membakar Fighting Spirit (Semangat Berjuang) Anda

“Tidak ada satu pun di dunia ini yang dapat menggantikan ketekunan dan keteguhan hati. Itulah kunci sukses.” (Calvin Coolidge)

Bulan ini, kita baru saja mengenangkan jasa para pahlawan. Salah satu ciri utama seorang pahlawan adalah semangat perjuangannya. Semangat berjuang inilah yang mengantar bangsa ini mewujudkan cita-cita kemerdekaannya.

Sementara itu, kalau kita melihat kilas jejak orang-orang sukses, kita menemukan satu benang merah. Benang merah itu tak lain adalah fighting spirit (semangat juang) untuk mencapai kesuksesan itu. Fighting spirit sangat dekat dengan semangat berkompetisi secara luar biasa. Hampir semua orang yang berprestasi memiliki fighting spirit yang membuat mereka unggul.

Nah, bagaimana kualitas fighting spirit Anda dalam merengkuh kesuksesan? Marilah kita simak bersama. Thomas Alva Edison dikenal sebagai ilmuwan dan penemu luar biasa. Namun, kalau kita lihat latar kehidupannya, Edison bukanlah orang yang cerdas-cerdas amat. Dia gagal mengenyam pendidikan sampai selesai.

Diperkirakan IQ-nya hanya sekitar 110 sampai 120. Tuli sejak usia 11 tahun. Dia akrab dengan beragam penolakan. Namun, dia tidak pernah patah arang. Sampai-sampai di laboratorium, dia menggoreskan catatan kecil. Katanya,” Kalau tidak ada pabrik yang mau membuat penemuan saya, sayalah yang akan membuat pabrik itu.” Baginya, pabrik atau mati. Nah, semangat ini mirip adagium para pahwalan kita: merdeka atau mati.

Sosok inspiratif lain adalah Napoleon Bonaparte. Setelah kalah perang, Napoleon dibuang ke Pulau Elba. Di masa pembuangan itu, Napoleon menuliskan kegeramannya. “Sejak kecil saya tidak bisa berada di tempat lain selain berada di kelas teratas,” katanya. Menurut kesaksian istrinya Josephine, Napoleon tidak bisa menerima kekalahan kecil. Bahkan, dalam permainan catur sekalipun. Dia akan berupaya keras memenangi permainan.

Tak disangkal, semangat fighting spirit inilah yang membuat hasil- hasil dan prestasi yang luar biasa diciptakan. Tanpa semangat ini, kita hanya akan berakhir dengan rekor yang biasa-biasa dan sedang- sedang saja. Mudah berpuas diri. Namun, semangat menjadi pemenang itulah yang menciptakan rekor -rekor dunia dan berbagai hal yang dianggap ‘tidak mungkin’ dapat dipatahkan.

Fighting spirit adalah semangat untuk berjuang tanpa mengenal menyerah. Keinginan untuk membuktikan bahwa kita bisa menjadi jauh lebih baik, bahkan bisa tampil menjadi pemenang meskipun harapan yang ada tampaknya tipis sekali. Bicara tentang hal ini, salah satu contoh yang baik adalah tatkala kita menonton film pertarungan Rocky Balboa dalam film-film Rocky. Pertarungan yang diberikan Rocky adalah salah satu contoh yang baik dari makna fighting spirit.

Fighting spirit ini berlaku dalam setiap aspek kehidupan yang kita jalani. Fighting spirit mampu membuat kita mencapai level tertinggi dalam prestasi kita. Hal ini berarti, kita tidak mudah menyerah dalam bisnis yang kita jalani. Meski bertebaran komentar-komentar buruk di sekeliling kita.

Tak patah arang

Tidak mudah patah arang saat di mana orang lain menyerah. Berani menantang diri. Rela berkorban serta memberikan diri secara total untuk mencapai suatu rekor prestasi. Dalam hal meraih tujuan bisnis, membuktikan kualitas kerja, melebihi standar kebutuhan klien, semuanya bisa kita capai dengan fighting spirit yang tinggi. Semangat ini akan membuat orang bekerja secara tuntas dan prima.

Saya teringat kisah fighting spirit yang luar biasa dari seorang agen asuransi. Saat itu, cita-citanya adalah bisa membawa kedua orangtuanya ke luar negeri. Satu-satunya cara adalah memperoleh tiket mengikuti konferensi di luar negeri, sehingga dia bisa membawa orang tuanya.

Waktu untuk memenuhi target tinggal 2 bulan. Terlalu pesimistis, dan kebanyakan agen pasti mengatakan bahwa dalam dua bulan angkanya terlalu sulit dicapai. Namun, tidak demikian dengan rekan saya tersebut. Dia membulatkan lagi cita-citanya. Memetakan lagi rencananya. Lalu, mulai berjuang siang dan malam.

Waktu luangnya betul-betul ia pakai untuk mewujudkan cita-citanya itu. Dan tatkala diumumkan siapa-siapa yang berhasil mengikuti konferensi itu pada akhir tahun, namanya tercantum di situ. Dia berlutut ke tanah, menangis penuh kebahagiaan.

Kisah lain yang cukup mengesan adalah Michael Jordan, maestro dunia basket. Dirinya adalah bintang sejati yang tidak bisa menerima tantangan. Sampai-sampai pada 1998, Jordan berkata kepada reporter sebelum musim NBA mulai, “Kalau tidak ada tantangan, rasanya saya tidak bisa menunjukkan kepiawaian saya”.

Bahkan, pernah ketika pelatih dari New York Knick mengejeknya bahwa Jordan berusaha berbaik-baik dengan pemainnya untuk mendapatkan keuntungan di lapangan. Jordan begitu terbakar semangatnya, sehingga dia melumatkan the Knicks dengan kemenangan telak unggul 53 skor. Sebuah skor kemenangan yang fantastis.

Di bidang apa pun, para pahlawan dan orang-orang sukses ini menjadi saksi pentingnya fighting spirit ini. Tunjukkan bahwa kita tidak menerima begitu saja kritikan dan cercaan orang pada apa yang kita lakukan. Bahkan tunjukkan kita bisa memberikan hasil yang jauh lebih baik.

Jangan pula gampang menyerah sebelum pertandingan betul-betul usai. Selama masih ada waktu, kita masih punya peluang untuk meraih kemenangan dalam diri kita. Itulah yang kita pelajari dari Edison, Napoleon, Rocky Balboa, si agen asuransi serta Michael Jordan. Tanyakan sekali lagi, seberapa tangguh Anda telah berjuang?

Mendapatkan Profesi Impian

http://hatoedutoys.com/admin/layanan1/profesi.JPGKELAR kuliah dan langsung mendapatkan pekerjaan merupakan impian semua mahasiswa. Apalagi, kalau pekerjaan yang didapat sesuai dengan cita-cita yang diimpikan.

Namun, tidak selamanya keinginan menjadi kenyataan. Apalagi, zaman sekarang banyak yang berpikiran mendapatkan pekerjaan itu sulit. Jadi, apa yang ada di depan mata, itulah yang diambil.

Lalu, bagaimana kalau pekerjaan Anda tidak seperti yang diidamkan? Pergumulan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan cita-cita dan minat dialami semua orang, termasuk penulis serial sukses Harry Potter, J.K Rowling. Sejak lama, Rowling mengidamkan pekerjaan sebagai penulis. Untuk mencapai impiannya, Rowling harus melewati beberapa profesi, termasuk pernah merasa “salah” memilih pekerjaan.

Rowling, yang pernah bekerja sebagai sekretaris dan guru pun hampir melupakan pekerjaan idamannya itu. Apalagi, teman-teman sekantornya sering mengatakan agar Rowling berhenti bermimpi menjadi penulis. Menghindari omongan teman-temannya yang tidak positif, Rowling mulai menulis di tempat  yang asing secara diam-diam. Dari hal inilah, Rowling menghasilkan novel Harry Potter yang pernah dibilang berhasil menggairahkan industri penerbitan.

Proses Penyelarasan Diri

Berkaca pada pengalaman Rowling yang berhasil keluar dari masalah dan meraih pekerjaan impiannya, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.

1. Tetap tekun dan menjaga komitmen terhadap pekerjaan

Jalani pekerjaan yang ada saat ini dengan sepenuh hati sambil mengendalikan profesi idaman. Kalau kita serius, produktif dan cepat belajar, tidak mustahil kalau Anda semakin cepat mengarah ke jalur yang sesuai dengan minat diri dan tujuan hidup.

2. Memilih waktu yang tepat dan konsisten untuk melakukan apa yang diminati

Tetaplah menyisakan sebagian waktu untuk melakukan hal yang dibutuhkan oleh minat atau profesi idaman dengan setia dan tekun. Tentunya, dengan kegiatan yang mendatangkan kenikmatan.

3. Menjalin hubungan dengan komunitas

Jalin hubungan dengan orang atau komunitas yang berasal dari profesi yang kamu idamkan tersebut. Dengan menjalin hubungan, Anda tidak akan lupa pada profesi idaman. Atau bisa membuka jalan Anda untuk menemukan sosok yang akan membimbing agar mengubah mimpi menjadi kenyataan.

4. Menjaga fokus, arah dan tujuan hidup

Menjaga pikiran agar fokus pada profesi idaman meski Anda ragu, takut atau ga yakin. Pekerjaan yang ada saat ini adalah perantara untuk mengantarkan Anda ke tujuan. Jadi, pekerjaan sekarang tidak kalah pentingnya dengan minat dan tujuan hidup.

5. Memahami petunjuk hidup

Ikuti intuisi Anda serta pahami petunjuk yang terjadi dalam setiap peristiwa yang terjadi di dalam dan di luar diri. Karena dengan sensitif intuisi, Anda akan peka dan memahami apa yang harus dilakukan.

Lalu, apakah Anda akan menemukan keselarasan antara hidup dan pekerjaan sesuai minat? Menurut pengalaman Arnold Schwarzenegger, itu adalah pilihan Anda. “Isi pikiran adalah batasan-batasan yang sebenarnya bagi kita. Sepanjang pikiranmu dapat memvisualisasikan fakta yang bisa kamu lakukan, kamu bisa melakukannya selama memiliki keyakinan seratus persen.”

Selamat meraih yang Anda impikan ya….

Self

http://www.toothpastefordinner.com/012008/negative-self-image.gif

Self atau ego (istilah yang digunakan Freud) merupakan salah satu aspek sekaligus inti dari kepribadian seseorang, yang di dalamnya meliputi segala kepercayaan, sikap, perasaan, dan cita-cita. Dalam pandangan klasik, sebagaimana disampaikan William James (1864-1929) dalam bukunya Human Nature and the Social Order, bahwa self terbagi ke dalam dua bagian, yaitu : (1) self sebagai obyek yang dapat diamati, menggambarkan tentang “me” atau apa yang dimilikinya; dan (2) self sebagai agen yang melakukan pengamatan, menggambarkan tentang “I” atau pelaku yang mengamati atau merasakan. Contoh : “ Saya pintar”. Kata “saya” menunjukkan self sebagai agen atau pelaku (I) dan “pintar” menunjukkan obyek yang dimilikinya (me).

Menurut Freud (Calvin S. Hall & Gardner Lindzey, 1993) self atau ego merupakan eksekutif kepribadian untuk mengontrol tindakan (perilaku) dengan mengikuti prinsip kenyataan atau rasional, untuk membedakan antara hal-hal terdapat dalam batin seseorang dengan hal-hal yang terdapat dalam dunia luar.

Rogers mengemukakan tentang konsep self yang merupakan gabungan dari tiga unsur; (1) perceived self (bagaimana seseorang atau orang lain melihat tentang dirinya); (2) real self (bagaimana kenyataan tentang dirinya); dan (3) ideal self (apa yang dicita-citakan tentang dirinya). Ketiga unsur tersebut digambarkan bentuk segi tiga (triangle) dan ideal self menjadi dasar sekaligus inti bagi pembentukan kedua unsur self lainnya.

Menurut pandangannya, bahwa self merupakan sesuatu yang terorganisir, bersifat konsisten, dan berkembang melalui interkasi dengan lingkungannya. Pandangan ini tampaknya sejalan dengan pemikiran Charles Cooley“Human Nature and the Social Order” bahwa self hanya bisa dimengerti melalui interkasi dengan lingkungannya dan self dibangun berdasarkan pandangannya dan pandangan orang lain selama sepanjang hayatnya. (1864-1929) yang dituangkan dalam bukunya

Konsep lain tentang self dikemukakan oleh John F. Pietrofesa (1971) bahwa self terdiri tiga komponen, yaitu : (1) ideal self; (2) self as seen by self; dan (3) self as seen by others. Dalam keadaan ideal ketiga self ini persis sama dan menunjukkan kepribadian yang sehat, sementara jika terjadi perbedaan-perbedaan yang signifikan diantara ketiga self tersebut merupakan gambaran dari ketidakutuhan dan ketidaksehatan kepribadian.

Telah dikemukakan diatas bahwa self melibatkan kepercayaan, sikap, perasaan, dan cita-cita. Setiap orang memiliki kepercayaan, sikap, perasaan dan cita-cita akan dirinya, ada yang realistis atau justru tidak realistis. Sejauh mana individu dapat memiliki kepercayaan, sikap, perasaan dan cita-citanya akan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadiannya,terutama kesehatan mentalnya.

Kepercayaan, sikap, perasaan dan cita-cita akan seseorang akan dirinya secara tepat dan realistis memungkinkan untuk memiliki kepribadian yang sehat. Namun, sebaliknya jika tidak tepat dan tidak realistis boleh jadi akan menimbulkan pribadi yang bermasalah. Kepercayaan akan dirinya yang berlebihan (over confidence) menyebabkan seseorang dapat bertindak kurang memperhatikan lingkungannya dan cenderung melabrak norma dan etika standar yang berlaku, serta memandang sepele orang lain. Selain itu, orang yang memiliki over confidence sering memiliki sikap dan pemikiran yang over estimate terhadap sesuatu. Sebaliknya kepercayaan diri yang kurang, dapat menyebabkan seseorang cenderung bertindak ragu-ragu, rasa rendah diri dan tidak memiliki keberanian. Kepercayaan diri yang berlebihan maupun kurang dapat menimbulkan kerugian tidak hanya bagi dirinya namun juga bagi lingkungan sosialnya.

http://rainbow120.files.wordpress.com/2009/04/self-esteem-training.jpg

Begitu pula, setiap orang memiliki sikap dan perasaan tertentu terhadap dirinya. Sikap akan diwujudkan dalam bentuk penerimaan atau penolakan akan dirinya, sedangkan perasaan dinyatakan dalam bentuk rasa senang atau tidak senang akan keadaan dirinya. Sikap terhadap dirinya berkaitan erat dengan pembentukan harga diri (penilaian diri), yang menurut Maslow merupakan salah satu jenis kebutuhan manusia yang amat penting. Sikap dan mencintai diri yang berlebihan merupakan gejala ketidaksehatan mental, biasa disebut narcisisme. Sebaliknya, orang yang membenci dirinya secara berlebihan dapat menimbulkan masochisme.

Disamping itu, setiap orang pun memiliki cita-cita akan dirinya. Cita-cita yang tidak realistis dan berlebihan, serta sangat sulit untuk dicapai mungkin hanya akan berakhir dengan kegagalan yang pada akhirnya dapat menimbulkan frustrasi, yang diwujudkan dalam bentuk perilaku salah-suai (maladjusted). Sebaliknya, orang yang kurang memiliki cita-cita tidak akan mendorong ke arah kemajuan.

============

Sinergi Soft Skill dan Hard Skill

oleh Fadli Saldi

Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad)


http://4.bp.blogspot.com/_s4hufd6f310/S5YiLClDPoI/AAAAAAAABo0/0ZmSxPpDq6E/s400/soft+skills.jpg

Bukan hanya di lingkungan akademisi kita di tuntut untuk mengembangkan sofkill kita, sebelum nantinya kita siap untuk memasuki dunia nyata (real word) tapi pengasahahan sofkill juga di dalam agama kita di suruh untuk mengasahnya keterampilan menjadi seorang yang profesional dan ahli di bidang yang digeluti.

Hadist di atas menegaskan kita untuk membangun sebuah kemapuan baik itu Hardskill maupun Sofkill. Sukses meraih cita-cita dan karir di masa depan tidak hanya ditentukan oleh hardskill, seperti tingginya nilai indeks prestasi (IP), penguasaan teori serta terampil dalam mengoperasikan peralatan laboratorium dan perangkat berteknologi tinggi. Ada banyak cerita dari orang-orang yang tidak memiliki IP yang tinggi meraih sukses dalam kehidupannya, karena mereka mengandalkan pertumbuhan softskill.

Istilah softskill memang tergolong baru terdengar, tetapi softskill merupakan kemampuan-kemampuan dasar yang perlu ditumbuhkan dalam diri Anda, agar Anda dapat memotivasi diri dan orang lain, bertanggung jawab, membangun relasi, berkomunikasi, negosiasi, beradaptasi dengan lingkungan, berkreasi, berinovasi dan berwirausaha, memimpin, membangun kerjasama, mengelola sumber daya dan lain sebagainya.

http://oryzanai.files.wordpress.com/2009/12/soft-skills.jpg

Perbedaan antara Sofkill dan Hardskill ?

Wikipedia menuliskan pengertian Soft Skill dan Hard Skill sebagai berikut

Soft skills is a sociological term which refers to the cluster of personality traits, social graces, facility with language, personal habits, friendliness, and optimism that mark people to varying degrees. Soft skills complement hard skills, which are the technical requirements of a job.

sementara untuk pengertian hardskill atau sebagai orang menyebutnya  Hard Competence sebagai berikut :

The hard competence referring to job-specific abilities, and relevance will be about specific knowledge relating to “up to date” systems.

Dari pengertian antara sofkill dan hardskill dapat kita menyimpulkan :

Setiap profesi – profesi di tuntut untuk memiliki hardskill yang khusus, tetapi sofkill bisa merupakan kemampuan yang harus di miliki setiap profesi.

Apa hubungan Softkill, Hardskill dengan sekolah atau kuliah ?

Bukan berarti bahwa sekolah atau kuliah menjadi tidak penting. Namun, keseimbangan dari pertumbuhan hardskill dan softskill akan membuat Anda mengalami sukses lebih cepat dan lebih jauh dari kesuksesan yang hanya ditunjang oleh salah satu faktor tersebut. Perpaduan antara hardskill dan softskill sangat diperlukan untuk meraih jenjang karir yang tinggi atau memperluas bisnis di masa depan.

Why Sofkill?

You are about to enter, the real world

Banyak lulusan dari perguruan tinggi baik itu negerti dan swasata yang tidak siap menghadapi dunia nyata atau dunia kerja. Persaingan yang ketat kita di tuntut untuk memiliki kempuan yang lebih bukan hanya kemampuan Hardskill (nilai IPK yang tinggi) tetapi kita di tuntut untuk memeliki sebuah kompetensi seorang lulusan.

Berikut ini kompetentsi lulusan yang di harus dimiliki didalam menghadapi persaingan di dunia nyata :

  • Komunikasi tertulis
  • Bekerja dalam tim
  • Teknologi
  • Berpikir logis
  • Berkomunikasi lisan
  • Bekerja mandiri
  • Ilmu pengetahuan
  • Berpikir analitis

Kemampuan-kemampuan di atas sebenarnya kita bisa dapatkan semasa sekolah, kuliah. Organisasilah yang bisa membentuk seseorang bisa memiliki kemampuan-kemampuan di atas, apakah anda memiliki kemampuan-kemampuan tersebut ? Belajar dan belajar itulah jawabannya dan yang paling penting percaya pada kata “PROSES”.

Wassalam, semoga bermanfaat

referensi :

  • http://www.ukdw.ac.id/2009/id/?page_id=650
  • http://aku.rezaervani.com/?p=20
  • http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/materisoftskill/pengertian_softskill_3.pdf