Tag Archives: mahasiswa

Beasiswa Rp 800 Miliar Bagi 20.000 Mahasiswa 2010

Yap…yap.. di postingan yang pertama ini, semangatbelajar.com mo ngasih info bagus nih bwt tmen – tmen yg mo ngelanjutin studi ke perguruan tinggi alias kuliah.. hehhee..
sesuai judulnya, dirjen dikti ngasih beasiswa untuk mahasiswa baru angkat

an 2010. yang masing – masing bakal dapet sekitar 10 jt rupiah / tahun selama masa studi di perguruan tinggi. woooww… lebih detailnya ada di bawah ini..
[semoga bermanfaat.. ^^]

Persyaratan

Persyaratan untuk mendaftar program beasiswa BIDIK MISI tahun 2010 adalah:

  1. Siswa SMA/SMK/MA/MAK atau bentuk lain yang sederajat yang dijadwalkan lulus pada tahun 2010;
  2. Berprestasi dan orang tua/wali-nya kurang mampu secara ekonomi;
  3. Calon penerima beasiswa mempunyai prestasi akademik/ kurikuler, ko-kurikuler maupun ekstra kurikuler yang diketahui oleh Kepala Sekolah/ Pimpinan Unit Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Kabupaten/Kota. Adapun prestasi akademik/kurikuler yang dimaksud adalah peringkat 25 persen terbaik di kelas, sedangkan prestasi pada kegiatan ko-kurikuler dan/atau ekstrakurikuler minimal peringkat ke-3 di tingkat Kabupaten/Kota dan harus sesuai dengan program studi yang dipilih.

Nilai & Jangka Waktu Beasiswa

Nilai Beasiswa : Rp 10 juta per tahun
Jangka Waktu : 8 semester untuk program S1/D IV dan 6 semester untuk D III

Program beasiswa Bidik Misi ini akan diberikan kepada 20.000 mahasiswa dan atau calon mahasiswa dari keluarga yang secara ekonomi kurang mampu dan berprestasi, baik di bidang akademik/kurikuler, ko-kurikuler maupun ekstrakurikuler. Dana beasiswa dan biaya pendidikan yang diberikan adalah sebesar Rp 5.000.000 (lima juta rupiah) per mahasiswa per semester yang diprioritaskan untuk biaya hidup. Artinya, setiap mahasiswa yang lulus seleksi beasiswa ini akan mendapat minimal Rp 10 juta per tahun.

Ini berarti, total anggaran per tahun beasiswa Dikti ini mencapai Rp 200 miliar. Beasiswa ini diperuntukkan hingga mahasiswa itu lulus (8 semester untuk S1 atau D IV) yang bila dijumlahkan mencapai kurang lebih Rp 800 miliar (karena ada program 6 semester untuk D III).

Pendaftaran

Bagi yang memenuhi persyaratan di atas, calon mahasiswa 2010 (atau siswa kelas XII SMA) dapat mulai melakukan pendaftaran beasiswa tersebut. Berikut beberapa langkah pendaftaran beasiswa tersebut.

  1. Calon mahasiswa memilih program pendidikan Diploma III, Diploma IV dan Sarjana pada perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi BHMN terpilih (silahkan download Lampiran 82 PTN Depdiknas dan 22 PTN Depag program beasiswa);
  2. Berhubung jadwal pendaftaran calon mahasiswa baru di perguruan tinggi penyelenggara tidak bersamaan, maka setiap calon mahasiswa diharuskan memperhatikan jadwal pendaftaran di setiap perguruan tinggi yang dipilih;
  3. Setiap calon mahasiswa dapat memilih maksimal dua program studi, baik dalam satu perguruan tinggi atau di dua perguruan tinggi yang berbeda.
  4. Kepala Sekolah/Pimpinan Unit Dikmas dari siswa yang memenuhi persyaratan melakukan pendaftaran secara kolektif, untuk siswa/peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya, kepada Rektor/Ketua/Direktur atau pimpinan perguruan tinggi penyelenggara yang dituju dengan melampirkan berkas sebagai berikut:

Berkas-berkas yang dilengkapi oleh siswa

  1. Formulir pendaftaran yang telah diisi oleh siswa yang bersangkutan dan dilengkapi dengan pasfoto ukuran 3×4 sebanyak 3 (tiga) lembar. Silahkan download formulir pendaftaran di sini.
  2. Fotokopi Kartu Tanda Siswa (KTS) atau yang sejenis sebagai bukti siswa aktif;
  3. Fotokopi rapor semester 1 s/d 5 disertai surat keterangan tentang peringkat siswa di kelas dan bukti pendukung prestasi lain di bidang keilmuan/akademik yang disahkan (legalisasi) oleh kepala sekolah/ pimpinan unit Dikmas;
  4. Fotokopi Kartu Keluarga Miskin. Bagi keluarga yang tidak memiliki kartu Keluarga Miskin, harus menyertakan Surat Keterangan Penghasilan Orang tua/wali atau Surat Keterangan Tidak Mampu yang dapat dibuktikan kebenarannya, yang dikeluarkan oleh kepala desa/kepala dusun/Instansi tempat orang tua bekerja/tokoh masyarakat;
  5. Fotokopi Kartu Keluarga;
  6. Jika diperlukan dapat menyertakan bukti pendukung lain seperti fotokopi rekening listrik bulan terakhir (apabila tersedia aliran listrik) dan atau bukti pembayaran PBB dari orang tua/wali-nya.

Berkas yang dilengkapi oleh Sekolah/Unit Dikmas

  1. Rekomendasi dari Kepala Sekolah/Pimpinan Unit Dikmas yang memberikan keterangan bahwa pendaftar adalah siswa berprestasi yang orang tua/wali-nya kurang mampu;
  2. Daftar nama pelamar ke perguruan tinggi penyelenggara yang dituju.

Dokumen Lain

Untuk dokumen dan informasi lain, silahkan download link dibawah ini.

Alternatif Usaha Untuk Mahasiswa

Sebagai seorang mahasiswa tentu ingin juga mempunyai penghasilan sendiri. Pada dasarnya adalah untuk membantu meringankan beban orang tua. Beruntung bagi mereka yang mendapatkan beasiswa tetapi banyak pula yang masih bergantung kepada orang tuanya. Didorong dengan pemikiran yang kreatif dan inovatif, seorang mahasiswa bisa menghasilkan uang dari berbagai sumber, diantaranya adalah melalui:

1. Menjual barang

Barang apapun selama masih bisa dikonsumsi dan digunakan sebenarnya bisa menghasilkan uang. Yang penting barang yang diperjualbelikan tersebut cocok dengan pasar yang dituju. Misalnya kalau pasarnya sesama mahasiswa ya coba menjual barang yang bermanfaat bagi mahasiswa dan tentu saja dengan harga yang murah.

2. Menjual keahlian

Kalau Anda ahli dalam bahasa atau ilmu alam gunakanlah keahlian tersebut untuk berusaha. Misal menjadi guru les, dll. Ini mudah namun bisa juga sulit. Sebenarnya tidak perlu modal dana, yang terpenting adalah keahlian. Namun sering terbentur dengan kepercayaan diri mahasiswa yang bersangkutan. Jangan khawatir, cobalah cari dukungan dari sesama teman untuk meningkatkan semangat Anda.

3. Membuka usaha

Bagi yang punya modal lebih, buka usaha bisa menjadi pilihan. Mulai dri rental, tempat makan, tempat les atau toko kelontong bisa Anda pilih. Namun karena tugas utama seorang mahasiswa adalah belajar maka perlu diperhatikan masalah waktu, tenaga kerja dan manajemen.

4. Menjadi karyawan

Liburan biasanya menjadi ajang yang tepat untuk sekadar bekerja sebagai karyawan kontrakatau bekerja setengah hari di suatu tempat. Kalau sedang pada masa perkuliahan ya konsekuensinya adalah masalah waktu. Namun prinsipnya bekerja sebagai karyawan di sini tidak harus dilakukan full dari pagi sampai sore.

5. Network marketing

Pada network marketing, si mahasiswa seperti sedang membuka toko, dan dia bisa mengajak banyak orang di sekelilingnya untuk membuka toko juga seperti dia. Pada sistem seperti ini, si mahasiswa bisa mendapatkan penghasilan tambahan berupa keuntungan eceran dari penjualan barang. Selain itu juga bisa mengejar penghasilan berupa komisi jaringan.

Mudah-mudahan dengan artikel ini Anda sebagai mahasiswa bisa lebih termotivasi dan percaya diri dalam berwiraswasta tan meninggalkan kewajiban utama, yaitu BELAJAR!

Memilih Program Studi

Untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tinggi, seorang calon mahasiswa terlebih dahulu harus dapat mengukur kemampuannya, menentukan bidang apa yang diminatinya, menentukan jenis program pendidikan yang diinginkannya, dan mencari informasi mengenai perguruan tinggi mana yang menyelanggarakan bidang yang diminatinya tersebut. Termasuk menanyakan pada dirinya, apa yang menjadi cita-citanya? Keahlian apa yang diperlukan bila seorang mahasiswa memilih karir tertentu? Apakah calon mahasiswa yang bersangkutan ingin belajar jauh dari orangntuanya? Berapa dana yang dibutuhkan? Pendeknya, ada beberapa yang yang dapat digunakan sebagai pertimbangan ketika akan memilih suatu perguruan tinggi, antara lain bidang studi, jurusan, biaya, reputasi perguruan tinggi yang bersangkutan, status akreditasi, fasilitas pendidikan yang tersedia, serta kualitas dan kuantitas dosen yang dimilikinya.

Bidang Studi hal pertama yang harus diperhatikan para calon mahasiswa adalah minat yang akan berkaitan dengan bidang studi yang hendak ditekuni oleh calon mahasiswa. Untuk memilih bidang studi ini, jangan segan-segan utnuk mencari informasi termasuk kepada orangtua, teman maupun guru. Lebih baik lagi jika bertanya kepada orang telah terjun langsung ke dunia kerja di baidang yang diminatinya. Intinya adalah pastikan bahwa calon mahasiswa atau orangtua mengerti benar tentang perbedaan antara satu bidang studi dengan bidang studi yang lain, terutama bidang studi yang memiliki kemiripan.

Untuk mendapatkan informasi mengenai bidang studi di perguruan tinggi, calon mahasiswa dapat memanfaatkan fasilitas Internet, melalui website-website dari perguruan tinggi yang dituju. Atau dapat juga melakukan pencarian dengan Google dan bertanya melalui mailing list.

Salah satu hal yang sangat penting lainnya adalah pertimbangan biaya kuliah. Sebaikan terlebih dahulu bicarakan dengan orang yang akan membiayai kuliah, atau telilti keadaan keuangan yang dimiliki bila akan membiayai kuliah sendiri. Sesuaikan jumlah dana yang tersedia dengan biaya kuliah di perguruan tinggi yang akan menjadi pilihannya. Buatlah rencana pembiayaan untuk melihat jumlah dana yang tersedia selama masa studi. Jangan mengandalkan pekerjaan sampingan. Pastikan bahwa dana yang dimiliki cukup untuk membiayai kuliah sampai selesai. Risiko apabila dana tidak mencukup adalah kerugian yang cukup besar, yaitu dana yang telah dikeluarkan sudah banyak, waktu terbuang percuma dan kuliah tidak selesai.

sumber: dikti

Tak Masalah UN Dijadikan Syarat PTN

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, yang juga Bendahara SNMPTN 2010, Rohmat Wahab, mengatakan, tidak masalah jika hasil ujian nasional (UN) menjadi satu-satunya pertimbangan masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Namun, nilai UN di setiap daerah harus dikoreksi terlebih dahulu terutama nilai di daerah yang hitam dan putih.

‘Nilainya harus dikonversi dulu karena pasti tidak sama nilai 9 di daerah hitam dengan nilai 9 di daerah putih.’  — Rohmat Wahab

Nilainya harus dikonversi dulu karena pasti tidak sama nilai 9 di daerah ‘hitam’ dengan nilai 9 di daerah ‘putih’. Daerah hitam adalah daerah yang sering dituding terjadi kebocoran soal, sedangkan daerah putih adalah daerah yang kejujuran UN-nya relatif tinggi, kata Rohmat.

Rohmat menilai hasil SNMPTN itu menggambarkan keadaan yang sebenarnya karena Daerah Istimewa Yogyakarta sejak dulu selalu meraih nilai tinggi pada UN dan hasil ujian tulis SNMPTN.

Tidak tahu kenapa, hasil UN tahun ini di Yogyakarta rendah, kata Rohmat.

Seperti diberitakan sebelumnya, pakar evaluasi pendidikan Hamid Hasan mengatakan, hasil SNMPTN yang berbanding terbalik dengan hasil UN sepantasnya dicermati lebih serius. Apalagi jika nilai UN akan dijadikan satu-satunya pertimbangan masuk PTN.

Harus dievaluasi secara cermat agar jangan sampai merugikan calon mahasiswa, kata Hamid Hasan, Senin kemarin.

Sumber: Kompas.Com

Opini : Pendidikan Nasional

Oleh Amirul Mukminin

Memang harus kita akui ada diantara (oknum) generasi muda saat ini yang mudah emosi dan lebih mengutamakan otot daripada akal pikiran. Kita lihat saja, tawuran bukan lagi milik pelajar SMP dan SLTA tapi sudah merambah dunia kampus (masih ingat kematian seorang mahasiswa di Universitas Jambi, awal tahun 2002 akibat perkelahian didalam kampus). Atau kita jarang (atau belum pernah) melihat demonstrasi yang santun dan tidak menggangu orang lain baik kata-kata yang diucapkan dan prilaku yang ditampilkan. Kita juga kadang-kadang jadi ragu apakah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa murni untuk kepentingan rakyat atau pesanan sang pejabat.

Selain itu, berita-berita mengenai tindakan pencurian kendaraan baik roda dua maupun empat, penguna narkoba atau bahkan pengedar, pemerasan dan perampokan yang hampir setiap hari mewarnai tiap lini kehidupan di negara kita tercinta ini banyak dilakukan oleh oknum golongan terpelajar. Semua ini jadi tanda tanya besar kenapa hal tersebut terjadi?. Apakah dunia Pendidikan (dari SD sampai PT) kita sudah tidak lagi mengajarkan tata susila dan prinsip saling sayang – menyayangi kepada siswa atau mahasiswanya atau kurikulum pendidikan tinggi sudah melupakan prinsip kerukunan antar sesama? Atau inikah hasil dari sistim pendidikan kita selama ini ? atau Inikah akibat perilaku para pejabat kita?

Dilain pihak, tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang membuat bangsa ini morat-marit dengan segala permasalahanya baik dalam bidang keamanan, politik, ekonomi, sosial budaya serta pendidikan banyak dilakukan oleh orang orang yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi baik dalam negri maupun luar negri. Dan parahnya, era reformasi bukannya berkurang tapi malah tambah jadi. Sehingga kapan krisis multidimensi inI akan berakhir belum ada tanda-tandanya.

Menyontek

Saat ini di sekolah-sekolah baik SD, SMP, SMA, maupun Perguruan Tinggi telah melaksanakan ujian mid semester maupun ujian semester. Peserta ujian dalam hal ini siswa maupun mahasiswa berusaha untuk menyelesaikaan soal atau permasalahan yang telah disiapkan oleh penguji (guru maupun dosen) agar memperoleh hasil belajar sesuai dengan apa yang telah diterimanya selama melaksanakan proses pembelajaran. Suatu permasalahan klasik muncul, dimana ada peserta didik yang melakukan suatu tindakan yang dalam kehidupan sehari-hari yang sering kita namakan “menyontek”.

“Menyontek” merupakan salah satu fenomena pendidikan yang sering dan bahkan selalu muncul menyertai aktivitas proses belajar mengajar sehari-hari, tetapi jarang mendapat pembahasan dalam wacana pendidikan kita di Indonesia. Kurangnya pembahasan mengenai “menyontek” mungkin disebabkan karena kebanyakan pakar menganggap persoalan ini sebagai sesuatu yang sifatnya sepele, padahal masalah menyontek sesungguhnya merupakan sesuatu yang sangat mendasar.

Dalam konteks kehidupan bangsa saat ini, tidak jarang kita mendengar asumsi dari masyarakat yang menyatakan bahwa koruptor-koruptor besar, penipu-penipu ulung mungkin adalah penyontek-penyontek berat ketika mereka masih berada di bangku sekolah. Atau sebaliknya, mereka yang terbiasa “menyontek” di sekolah, memiliki potensi untuk menjadi koruptor, penipu, dan penjahat krah putih dalam masyarakat nanti. Mengapa para pendidik dan para peneliti begitu tertarik mempersoalkan masalah “menyontek”? Dalam menjawab pertanyaan ini paling tidak terdapat dua alasan yang mendasar yaitu: (a) “menyontek” jelas sangat bertentangan dengan nilai-nilai dasar (fundamental) pendidikan; (b) “menyontek” dalam segala bentuknya membawa resiko negatif terhadap siswa, sekolah, dan masyarakat.

Nugroho (2008) mengutip sebuah artikel dalam harian Jawa Pos yang memuat tentang hasil poling yang dilakukannya atas siswa-siswi SMP di Surabaya mengenai persoalan menyontek dengan hasil yang lumayan mengejutkan. Data itu menyebutkan bahwa, jumlah penyontek langsung tanpa malu-malu kucing mencapai 89,6 persen, langsung bertanya kepada teman mencapai 46,5 persen. Sedangkan 20 persen lebih berhati-hati pakai kode dan 14,9 persen mengandalkan lirikan. Untuk jumlah responden yang lulus dari “sensor” guru, sejumlah 65,3 persen.

”Menyontek” adalah salah satu wujud perilaku dan ekspresi mental seseorang. Ia bukan merupakan sifat bawaan individu, tetapi sesuatu yang lebih merupakan hasil belajar/pengaruh yang didapatkan seseorang dari hasil interaksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, ”menyontek” lebih sarat dengan muatan aspek moral daripada muatan aspek psikologis.

Dalam batas-batas tertentu ”menyontek: dapat dipahami sebagai sesuatu fenomena yang manusiawi, artinya perbuatan ”menyontek” bisa terjadi pada setiap orang sehingga asumsi di depan yang menyatakan bahwa ada korelasi antara perilaku ”menyontek” di sekolah dengan perilaku kejahatan seperti korupsi di masyarakat adalah terlalu spekulatif dan sulit dibuktikan secara nalar ilmiah. Meskipun demikian tak dapat disangkal bahwa ”menyontek” bisa membawa dampak negatif baik kepada individu, maupun bagi masyarakat. Dampak negatif bagi individu akan terjadi apabila praktek ”menyontek” dilakukan secara kontinyu sehingga menjurus menjadi bagian kepribadian seseorang. Selanjutnya, dampak negatif bagi masyarakat akan terjadi apabila masyarakat telah menjadi terlalu permisif terhadap praktek ”menyontek” sehingga akan menjadi bagian dari kebudayaan, dimana nilai-nilai moral akan terkaburkan dalam setiap aspek kehidupan dan pranata sosial.

Sebagai bagian dari aspek moral, maka terjadinya ”menyontek” sangat ditentukan oleh faktor kondisional yaitu suatu situasi yang membuka peluang, mengundang, bahkan memfasilitasi perilaku ”menyontek”. Seseorang yang memiliki nalar moral, yang tahu bahwa ”menyontek” adalah perbuatan tercela, sangat mungkin akan melakukannya apabila ia dihadapkan kepada kondisi yang memaksa.

Mencegah ”menyontek” tidaklah cukup dengan sekedar mengintervensi aspek kognitif seseorang, akan tetapi yang paling penting adalah penciptaan kondisi positif pada setiap faktor yang menjadi sumber terjadinya ”menyontek”, yaitu pada faktor siswa/ mahasiwa, pada lingkungan, pada sistem evaluasi dan pada diri guru/dosen.

Oleh karena setiap orang berpotensi untuk melakukan ”menyontek” dan terdapatnya gejala kecenderungan semakin maraknya praktek menyontek di dunia pendidikan, maka perlu segera dilakukan review atau reformulasi sistem atau cara pengujian, penyelenggaraan tes yang berlangsung selama ini baik yang diselenggarakan secara massal oleh suatu badan atau kepanitiaan maupun yang diselenggarakan secara individual oleh setiap guru atau dosen.

Dialog IMAJINER KYAI DAHLAN & KI HAJAR

http://2.bp.blogspot.com/_N522TCWLsRM/S4zDFOzjIWI/AAAAAAAAABQ/jul5LMuR0FI/s320/Ki_hajar_dewantoro2.jpghttp://2.bp.blogspot.com/_Z4oYm9hn6YI/RuA7hNg_NHI/AAAAAAAAABs/Sir8VwFk80c/s400/ahmad-dahlan.jpg

Alkisah di akhirat, bertemulah KH. Ahmad Dahlan dengan temannya, Ki Hajar Dewantara, sesama begawan pendidikan. Keduanya terlibat pembicaraan mengenai kondisi pendidikan di negara mereka dulu, Indonesia.
“Assalamu’alaikum, Ki. Apa kabar?,” Kyai Dahlan menyapa Ki Hajar. “Wa’alaikum salam. Baik Kyai,” jawab Ki Hajar. “Bagaimana kondisi pendidikan di negeri kita sekarang, Ki?,” tanya kyai Dahlan.
“Lho, kita kan sama-sama bisa melihat dari alam akhirat ini, Kyai. Orang-orang di negara kita memang berhasil membangun lembaga pendidikan yang besar-besar gedungnya, sekolah ada dimana-mana, bahkan saya dengar berita dari beberapa orang yang baru meninggal, di sana pendidikan mulai di gratiskan,” jawab Ki Hajar.
“Kan itu perkembangan positif, Ki?” tanya Kyai Dahlan.
“Memang, tetapi beberapa dari mereka menganut paradigma yang mulai melenceng. Pendidikan tidak lebih dari proses mendapat kerja, bukan memahami dunia. Menuntut ilmu hanya untuk mencari uang, bukan untuk mencari kebenaran. Budaya instan merajalela. Siswa hanya diajarkan menjawab soal, bukan memahami persoalan. Dalam ujian, yang penting lolos, bukan lulus. Bahkan yang lebih memprihatinkan, guru cenderung menjadi pekerjaan, bukan panggilan kesadaran. Ikhlas tidaknya mengajar berbanding lurus dengan gaji dan tunjangan. Apalagi di sekolah milik negara, guru diincar karena itu berarti bisa dapat pensiun saat tua. Hingga untuk mendapatkannya banyak yang berlaku curang,” jawab Ki Hajar. “Bagaimana dengan perkembangan sekolah swasta yang Kyai Dahlan rintis?”
“Tidak jauh berbeda Ki. Yang membuat saya prihatin adalah mereka merasa rendah diri di hadapan sekolah milik negara. Itu kan ahistoris. Saya mendirikan sekolah swasta jauh sebelum Indonesia merdeka dan memiliki sekolah. Tetapi sekolah swasta sekarang tidak punya keberanian merumuskan sistem pendidikan mereka sendiri. Dan lagi Ki, pendidikan Agama Islam dan Kemuhammadiyahan dianggap tidak penting, jadinya moral siswa berantakan,” jawab Kyai Dahlan.
Tiba-tiba ada orang datang, rupanya dia baru meninggal. Dia tampak sedih. Kyai Dahlan dan Ki Hajar menyapa orang itu. “Ada apa gerangan ki sanak, Anda kelihatan sedih?”. Orang itu menjawab: “Semasa hidup, saya seorang guru. Saya meninggal karena dihakimi massa karena mencabuli siswi saya sendiri.”
Ada lagi yang datang, kali ini seorang remaja. Dia juga tampak sedih. Kyai Dahlan dan Ki Hajar pun menyapanya. “Ada apa nak?”. Anak muda itu menjawab, “Saya meninggal karena bunuh diri. Saya stres karena tidak lulus ujian nasional. Padahal saya sudah menyiapkan contekan dan beli jawaban dari calo.”
Kemudian ada lagi yang datang, seorang pemuda. Dia tampak sayu. Kyai Dahlan dan Ki Hajar bertanya. “Ada apa kok tidak semangat ?”. “Saya mahasiwa yang meninggal karena tawuran,” jawabnya.
Mendengar jawaban mereka, Kyai Dahlan dan Ki Hajar kaget. Lalu mereka berembuk, dan sepakat untuk kembali ke dunia, memperbaiki kondisi pendidikan di negara mereka. Mereka lalu minta kepada Allah supaya diberi nyawa lagi. Mereka bertekat meluruskan pendidikan di Indonesia, bahkan dunia. Namun belum sempat minta dihidupkan, malaikat menghentikan mereka.
Kepada Kyai Dahlan dan Ki Hajar, malaikat berkata : “Kyai Dahlan dan Ki Hajar yang saya hormati. Maaf, Anda berdua tidak bisa hidup lagi. Untuk mewujudkan keinginan itu, Anda bisa mentransformasikan pemikiran dan keinginan Anda saja kepada yang masih hidup. Insya Allah, masih ada yang bisa merasakan semangat kebenaran Anda berdua,” kata malaikat.
Dengan berlinangan air mata, keduanya mengangguk. Dan kini mereka hanya bisa berharap.

Mahasiswa

Mahasiswa merupakan harapan bangsa yang dengan pola pikir yang idealis seringkali meneriakkan adanya perubahan. Menuntut kebijakan pemerintah bagi masyarakat. Yang sering kali pemerintah mengabaikan janji-janji yang telah mereka berikan. Mahasiswa memiliki peranan penting bagi arah masa depan bangsa ini, mereka sengaja dicetak di bangku perkuliahan dengan segala ilmu yang nantinya dapat mereka terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebelum ataupun sesudah mereka di wisuda. Hal ini merupakan sebuah tanggung jawab yang besar bagi para mahasiswa, mereka harus berpikir keras tentang arah perubahan yang madani bagi masyarakat.

Tetapi yang sangat disayangkan adalah kenyataan mahasiswa masa kini, semakin maju dan berkembangnya zaman ini malah membuat pikiran idealis mereka menjadi tumpul. Yang terjadi saat ini adalah mahasiswa menjadi semakin apatis, mereka tidak lagi peduli tentang isu-isu sosial yang sedang berkembang di lingkungan kampus, tempat tinggal bahkan isu-isu yang berkembang dalam pemerintahan. Memang masih ada juga mahasiswa yang peduli tetapi itu tidak sebanyak dengan kelompok apatis. Tidak salah jika tujuan mereka untuk kuliah agar nantinya dapat memperoleh masa depan yang menjanjikan tetapi yang menjadi permasalahan disini adalah sikap ketidakpedulian mereka terhadap nasib bangsa ini nantinya. Ada juga mahasiswa yang hanya sekedar kuliah agar mendapatkan gelar sarjana dengan cara instan atau alasan yang menggelikan adalah mencari jodoh. Banyak fakta yang terjadi ketika mahasiswa itu harus mengerjakan tugas akhir atau skripsi sebagai bagian pencapaian gelar sarjana, hal yang kemudian dilakukan oleh “mahasiswa ndableg” ini adalah mencari “jasa pembuatan skripsi” sungguh memilukan melihat kenyataan ini. Atau cara lain yang juga sangat menggelitik dan amat marak akhir-akhir ini dengan mem-plagiat karya orang lain untuk dijadikan bahan akhir tugas mereka.

Ketumpulan pada idealisme juga terjadi pada mahasiswa yang seringkali mengaku bahwa dirinya dan organisasi yang menaunginya adalah benar-benar aktivis sejati. Mereka rajin melakukan aksi “turun ke jalan” untuk berorasi dalam demo dan meneriakkan seabrek tuntutan yang harus segera dipenuhi oleh pemerintah. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sikap tersebut karena mahasiswa disebut sebagai seorang agent of change namun akan menjadi masalah jika demo atau unjuk rasa yang mereka lakukan harus di nodai dengan tindakan anarkis. Baru-baru ini ditayangan berita hampir disemua stasiun televisi dapat kita saksikan aksi mahasiswa berdemo dan terlibat perkelahian dengan aparat keamanan (baca:polisi), amat disayangkan sungguh sekelompok manusia berpendidikan harus terlibat perkelahian yang ditonton 200juta jiwa bangasa ini. Mengapa kawan-kawan mahasiswa harus berdemo dengan tindakan anarkis? Dari semua kejadian ini masihkah Indonesia disebut sebagai bangsa yang ramah, sopan santun dan berbudi luhur? Agaknya itu menjadi pesoalan bagi semua masyarakat bangsa Indonesia dalam menghadapi krisis identitas ini. Sekali lagi ini merupakan tugas berat mahasiswa sebagai agent of change, perubahan mendasar yang harus segera dilakukan adalah mahasiswa mampu melihat segala persoalan bangsa ini sebagai proses pembelajaran yang harus diselesaikan dengan kepala dingin dan berpatokan pada idealisme mahasiswa.

Mahasiswa oh mahasiswa. Tumpuan bangsa ini. Tumbuhkan rasa peduli terhadap persoalan bangsa ini, jangan terpancing emosi sesaat sebelum menemukan duduk persoalan yang sebenarnya. Bangkitkanlah idealisme yang sudah lama tumpul!

diambil dari pers mahasiswa.

Mendapatkan Profesi Impian

http://hatoedutoys.com/admin/layanan1/profesi.JPGKELAR kuliah dan langsung mendapatkan pekerjaan merupakan impian semua mahasiswa. Apalagi, kalau pekerjaan yang didapat sesuai dengan cita-cita yang diimpikan.

Namun, tidak selamanya keinginan menjadi kenyataan. Apalagi, zaman sekarang banyak yang berpikiran mendapatkan pekerjaan itu sulit. Jadi, apa yang ada di depan mata, itulah yang diambil.

Lalu, bagaimana kalau pekerjaan Anda tidak seperti yang diidamkan? Pergumulan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan cita-cita dan minat dialami semua orang, termasuk penulis serial sukses Harry Potter, J.K Rowling. Sejak lama, Rowling mengidamkan pekerjaan sebagai penulis. Untuk mencapai impiannya, Rowling harus melewati beberapa profesi, termasuk pernah merasa “salah” memilih pekerjaan.

Rowling, yang pernah bekerja sebagai sekretaris dan guru pun hampir melupakan pekerjaan idamannya itu. Apalagi, teman-teman sekantornya sering mengatakan agar Rowling berhenti bermimpi menjadi penulis. Menghindari omongan teman-temannya yang tidak positif, Rowling mulai menulis di tempat  yang asing secara diam-diam. Dari hal inilah, Rowling menghasilkan novel Harry Potter yang pernah dibilang berhasil menggairahkan industri penerbitan.

Proses Penyelarasan Diri

Berkaca pada pengalaman Rowling yang berhasil keluar dari masalah dan meraih pekerjaan impiannya, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.

1. Tetap tekun dan menjaga komitmen terhadap pekerjaan

Jalani pekerjaan yang ada saat ini dengan sepenuh hati sambil mengendalikan profesi idaman. Kalau kita serius, produktif dan cepat belajar, tidak mustahil kalau Anda semakin cepat mengarah ke jalur yang sesuai dengan minat diri dan tujuan hidup.

2. Memilih waktu yang tepat dan konsisten untuk melakukan apa yang diminati

Tetaplah menyisakan sebagian waktu untuk melakukan hal yang dibutuhkan oleh minat atau profesi idaman dengan setia dan tekun. Tentunya, dengan kegiatan yang mendatangkan kenikmatan.

3. Menjalin hubungan dengan komunitas

Jalin hubungan dengan orang atau komunitas yang berasal dari profesi yang kamu idamkan tersebut. Dengan menjalin hubungan, Anda tidak akan lupa pada profesi idaman. Atau bisa membuka jalan Anda untuk menemukan sosok yang akan membimbing agar mengubah mimpi menjadi kenyataan.

4. Menjaga fokus, arah dan tujuan hidup

Menjaga pikiran agar fokus pada profesi idaman meski Anda ragu, takut atau ga yakin. Pekerjaan yang ada saat ini adalah perantara untuk mengantarkan Anda ke tujuan. Jadi, pekerjaan sekarang tidak kalah pentingnya dengan minat dan tujuan hidup.

5. Memahami petunjuk hidup

Ikuti intuisi Anda serta pahami petunjuk yang terjadi dalam setiap peristiwa yang terjadi di dalam dan di luar diri. Karena dengan sensitif intuisi, Anda akan peka dan memahami apa yang harus dilakukan.

Lalu, apakah Anda akan menemukan keselarasan antara hidup dan pekerjaan sesuai minat? Menurut pengalaman Arnold Schwarzenegger, itu adalah pilihan Anda. “Isi pikiran adalah batasan-batasan yang sebenarnya bagi kita. Sepanjang pikiranmu dapat memvisualisasikan fakta yang bisa kamu lakukan, kamu bisa melakukannya selama memiliki keyakinan seratus persen.”

Selamat meraih yang Anda impikan ya….

MAHASISWA DAN KEARIFAN LOKAL

oleh Dr. Agus Maladi Irianto, M.A.

Merupakan bahan diskusi yang disampaikan pada acara “Saresehan Kearifan Lokal Provinsi Jawa Tengah” Di Hotel Telomoyo Semarang yang diselenggarakan tanggal 29 Januari 2009 oleh Badan Kesbangpol dan Linmas Prov. Jateng.

http://nanpunya.files.wordpress.com/2009/04/indonesia_.jpg

Bagaimana kondisi sosial bangsa kita saat ini?

PERKEMBANGAN sosial saat ini – yang lazim termasuk dalam era global – pada dasarnya telah melampaui pemikiran modernitas (yang ditandai dengan munculnya industri barang dan jasa) menuju pemikiran pascamodernitas yang cenderung lebih diorganisasikan oleh seputar konsumsi budaya, permainan media massa, dan perkembangan teknologi informasi. Pascamodernitas ini mempunyai pengaruh yang kuat dalam menandai dinamika sosial dan ekonomi masyarakatnya, terutama dalam mengkonsumsi simbol-simbol dan gaya hidup daripada fungsi produksi barang yang menjadi ciri khas era industri.
Fragmentasi global yang kekuataannya tak terelakkan tersebut di satu sisi justru memberi kontribusi memudarnya identitas yang selama ini dijadikan karakteristik sejumlah suku bangsa negeri Nusantara ini. Tantangan bagi bangsa Indonesia akibat globalisasi memang mengancam eksistensi jati diri bangsa Indonesia. Sebut saja terjadinya guncangan budaya (cultural shock). Hal itu terjadi dengan adanya ketidaksesuaian unsur-unsur yang saling berbeda sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan sosial yang tidak serasi fungsinya bagi masyarakat yang bersangkutan. Kebudayaan yang masuk ke suatu masyarakat tidak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat, kondisi seperti inipun juga dapat menimbulkan keguncangan budaya.
Agitasi media, terutama televisi nyaris menjadi kekuatan yang tak bisa dihindari. Tayangan televisi telah menjadi bagian dari refleksi kehidupan sehari-hari. Ia menjadi model dari sebuah habitus yang berperan aktif dalam ranah sosial. Ia telah menjadi fenomena komunikasi yang tidak bisa dilepaskan dari karakterisitik individu-individu yang kemudian menjadi objek dan subjeknya. Bahkan, tanpa sadar ia telah membangun hubungan-hubungan sosial melalui interaksi sosial dalam konteks politik, ekonomi, dan kultural. Teknologi komunikasi itu seolah menelusup dari ruang publik ke setiap individu hingga ruang-ruang privasi. Kita didorong untuk masuk dalam lorong waktu dan perisitiwa yang nyaris tak terbatas, sejalan juga dengan tanda-tanda yang makin rumit dan tak terbatasi.

Bagaimana kearifan lokal dijadikan model pendidikan?

Kearifan lokal sering dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat (local wisdom), pengetahuan setempat (local knowledge) atau kecerdasan setempat (local genious). Kearifan lokal adalah sikap, pandangan, dan kemampuan suatu komunitas di dalam mengelola lingkungan rohani dan jasmaninya, yang memberikan kepada komunitas itu daya-tahan dan daya tumbuh di dalam wilayah dimana komunitas itu berada. Dengan kata lain kearifan lokal adalah jawaban kreatif terhadap situasi geografis-geopolitis, historis, dan situasional yang bersifat lokal
Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka Kearifan lokal pada dasarnya dapat dipandang sebagai landasan bagi pembentukan jati diri bangsa secara nasional.
Motivasi menggali kearifan lokal sebagai isu sentral secara umum adalah untuk mencari identitas bangsa, yang mungkin hilang karena proses persilangan dialektis atau karena akulturasi dan transformasi yang telah, sedang, dan akan terus terjadi sebagai sesuatu yang tak terelakkan. Bagi kita, upaya menemukan identitas bangsa yang baru atas dasar kearifan lokal merupakan hal yang penting demi penyatuan kebudayaan bangsa di atas dasar identitas sejumlah etnik yang mewarnai Nusantara ini.
Kearifan lokal dapat dijadikan jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa sekarang, generasi nenek moyang dan generasi sekarang, demi menyiapkan masa depan dan generasi mendatang. Pada gilirannya, kearifan lokal pun dapat dijadikan semacam simpul perekat dan pemersatu antargenerasi. Oleh karena itu, menjadi semacam imperatif yang mendesak untuk terus menggali dan ”memproteksi” kearifan lokal yang terdapat pada setiap etnik lokal lewat berbagai upaya yang dimungkinkan, termasuk di dalamnya melalui pendidikan baik formal maupun informal.
Dengan selalu memperhitungkan kearifan lokal melalui pendidikan budaya niscaya manusia didik (siswa dan mahasiswa) diharapkan tidak terperangkap dalam situasi keterasingan. Atau menjadi “orang lain” dari realitas dirinya dalam pengertian “menjadi seperti (orang lain)”. Jadi, muatan lokal dalam pendidikan budaya harus selalu dimaknai dalam konteks pemerdekaan dalam rangka lebih mengenal diri dan lingkungan, dan bukannya sebagai domestikasi sosial budaya.
Menggali dan menanamkan kembali kearifan lokal secara inheren melalui pendidikan dapat dikatakan sebagai gerakan kembali pada basis nilai budaya daerahnya sendiri sebagai bagian upaya membangun identitas bangsa, dan, sebagai semacam filter dalam menyeleksi pengaruh budaya “lain”. Nilai-nilai kearifan lokal itu meniscayakan fungsi yang strategis bagi pembentukan karakter dan identitas bangsa. Pendidikan yang menaruh peduli terhadapnya akan bermuara pada munculnya sikap yang mandiri, penuh inisiatif, dan kreatif.
Dari sinilah pendidikan berbasis kearifan lokal dapat dikatakan adalah model pendidikan yang memiliki relevansi tinggi bagi pengembangan kecakapan hidup (life skills) dengan bertumpu pada pemberdayaan ketempilan dan potensi lokal di masing-masing daerah. Materi pembelajaran harus memiliki makna dan relevansi tinggi terhadap pemberdayaan hidup mereka secara nyata, berdasarkan realitas yang mereka hadapi. Kurikulum yang harus disiapkan adalah kurikulum yang sesuai dengan kondisi lingkungan hidup, minat, dan kondisi peserta didik. Juga harus memerhatikan kendala-kendala sosiologis dan kultural yang mereka hadapi. Pendidikan berbasis kearifan lokal adalah pendidikan yang mengajarkan peserta didik untuk selalu lekat dengan situasi konkret yang mereka hadapi.

Bagaimana mengoptimalkan peran mahasiswa?

Mahasiswa sebagai kaum intelektual muda, kini tengah berada di persimpangan. Antara perjuangan idealisme dan pragmatisme. Jargon sebagai agent of change and social control, kini mulai pudar seiring dengan berjalannya waktu. Kita mengakui bahwa gerakan mahasiswa telah menjadi fenomen penting dalam perubahan politik yang terjadi di Indonesia tahun 1998.
Edward Shill mengkategorikan mahasiswa sebagai lapisan intelektual yang memliki tanggung jawab sosial yang khas. Sementara itu Samuel Huntington menyebutkan bahwa kaum intelektual di perkotaan merupakan bagian yang mendorong perubahan politik yang disebut reformasi. Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat berpendidikan dan sehari-harinya bergelut dengan pencarian kebenaran dalam kampus melihat kenyataan yang berbeda dalam kehidupan nasionalnya. Kegelisahan kalangan mahasiswa ini kemudian teraktualisasikan dalam aksi-aksi protes yang kemudian mendorong perubahan yang reformatif dalam sistem politik di Indonesia.
Pasca reformasi ini eksistensi mahasiswa menghadapi tantangan berbeda. Globalisasi menuntut kreativitas dan peran mahasiswa yang tidak hanya sekadar berbekal militansi semata. Reoreintasi peran mahasiswa juga patut dikedepankan. Kendati setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda, namun peran mahasiswa sebagai agent of change and social control takkan pernah berubah. Karakter pelopor perubahan harus tetap menjiwai diri mahasiswa dan takkan usang walau ditelan zaman.
Rakyat masih memerlukan sentuhan kepedulian mahasiswa. Reformasi yang diteriakkan oleh mahasiswa, bahkan sampai menelan korban jiwa, hingga saat ini belum selesai. Mahasiswa merupakan iron stock bangsa dan negara dimasa depan, sesuai dengan jargon yang kerapkali diutarakan, yakni student now leader tommorow. Oleh karena itu perlu adanya orientasi kembali peran mahasiswa saat ini untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin di masa yang akan datang.
Tak terkecuali ketika kita ingin mengedepan kearifan lokal melalui dunia pendidikan, maka reorientasi peran mahasiswa menjadi sangat penting. Apalagi, eksistensi mahasiswa pada dasarnya mempunyai empat peran, yakni peran moral, sosial, akademik, dan politik. Mahasiswa memang tak bisa menafikan terjangan gelombang globalisasi, namun menemukan jati diri yang selama ini menjadi akar dan identitas merupakan peran meski terjaga. Motivasi menggali kearifan lokal bisa jadi merupakan upaya menemukan identitas bangsa yang selama ini selelu berproses.

sumber : web staff undip.