Tag Archives: perguruan tinggi

Memilih Program Studi

Untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tinggi, seorang calon mahasiswa terlebih dahulu harus dapat mengukur kemampuannya, menentukan bidang apa yang diminatinya, menentukan jenis program pendidikan yang diinginkannya, dan mencari informasi mengenai perguruan tinggi mana yang menyelanggarakan bidang yang diminatinya tersebut. Termasuk menanyakan pada dirinya, apa yang menjadi cita-citanya? Keahlian apa yang diperlukan bila seorang mahasiswa memilih karir tertentu? Apakah calon mahasiswa yang bersangkutan ingin belajar jauh dari orangntuanya? Berapa dana yang dibutuhkan? Pendeknya, ada beberapa yang yang dapat digunakan sebagai pertimbangan ketika akan memilih suatu perguruan tinggi, antara lain bidang studi, jurusan, biaya, reputasi perguruan tinggi yang bersangkutan, status akreditasi, fasilitas pendidikan yang tersedia, serta kualitas dan kuantitas dosen yang dimilikinya.

Bidang Studi hal pertama yang harus diperhatikan para calon mahasiswa adalah minat yang akan berkaitan dengan bidang studi yang hendak ditekuni oleh calon mahasiswa. Untuk memilih bidang studi ini, jangan segan-segan utnuk mencari informasi termasuk kepada orangtua, teman maupun guru. Lebih baik lagi jika bertanya kepada orang telah terjun langsung ke dunia kerja di baidang yang diminatinya. Intinya adalah pastikan bahwa calon mahasiswa atau orangtua mengerti benar tentang perbedaan antara satu bidang studi dengan bidang studi yang lain, terutama bidang studi yang memiliki kemiripan.

Untuk mendapatkan informasi mengenai bidang studi di perguruan tinggi, calon mahasiswa dapat memanfaatkan fasilitas Internet, melalui website-website dari perguruan tinggi yang dituju. Atau dapat juga melakukan pencarian dengan Google dan bertanya melalui mailing list.

Salah satu hal yang sangat penting lainnya adalah pertimbangan biaya kuliah. Sebaikan terlebih dahulu bicarakan dengan orang yang akan membiayai kuliah, atau telilti keadaan keuangan yang dimiliki bila akan membiayai kuliah sendiri. Sesuaikan jumlah dana yang tersedia dengan biaya kuliah di perguruan tinggi yang akan menjadi pilihannya. Buatlah rencana pembiayaan untuk melihat jumlah dana yang tersedia selama masa studi. Jangan mengandalkan pekerjaan sampingan. Pastikan bahwa dana yang dimiliki cukup untuk membiayai kuliah sampai selesai. Risiko apabila dana tidak mencukup adalah kerugian yang cukup besar, yaitu dana yang telah dikeluarkan sudah banyak, waktu terbuang percuma dan kuliah tidak selesai.

sumber: dikti

Kuliah Sekarang, Bayarnya Setelah Kerja!

Kredit atau pinjaman lunak untuk membiayai uang kuliah dianggap penting dan bisa dipertimbangkan untuk kebutuhan jangka panjang perguruan tinggi dalam mendapatkan mahasiswa berkualitas. Cara ini dianggap dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa-siswi setingkat SMA/sederajat untuk mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi.

Kewajiban membayar pinjaman dimulai setelah mahasiswa lulus dan bekerja, yang dapat dicicil 11 sampai 14 tahun. Untuk mendapatkan pinjaman, calon mahasiswa diseleksi dulu.

Demikian diungkapkan Direktur Siswa Bangsa Stefanus Aryawan kepada Kompas.com di Jakarta, terkait persoalan mengatasi mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi namun memiliki kemampuan akademis tinggi untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Melalui program Dana Siswa Bangsa, Siswa Bangsa memberikan pinjaman lunak jangka panjang untuk pendidikan kepada para mahasiswa di sekolah-sekolah tinggi yang berada di bawah naungan Putera Sampoerna Foundation (PSF), yaitu Sampoerna School of Business (SSB) dan Sampoerna School of Education (SSE).

Adapun jurusan yang terdapat di SSB antara lain adalah Manajemen dan Akuntansi, sedangkan di SSE adalah Matematika dan Bahasa Inggris. Tahun ini, kata Stefanus, sebanyak 75 mahasiswa SSE dan 75 mahasiswa SSB telah mengambil kesempatan ini.

Besarnya pinjamannya 300 juta (rupiah) untuk SSB dan 169 juta (rupiah) untuk SSE. Pinjaman ini diberikan kepada mahasiswa selama empat tahun masa studi mereka, tutur Stefanus.

Selama masa studi tersebut, mahasiswa tidak dibebani biaya apa pun yang berkaitan dengan kegiatan wajib maupun ekstrakurikuler, bahkan pelatihan-pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan mereka. Semua biaya, kata dia, akan ditanggung dan dibayarkan langsung ke sekolah tinggi masing-masing tanpa melalui mahasiswa.

Kewajiban membayar pinjaman dimulai setelah mahasiswa lulus dan bekerja, yang dapat dicicil 11 sampai 14 tahun. Dan untuk mendapatkannya, mereka diseleksi ketat, baik secara akademis maupun kondisi perekonomiannya, terangnya.

Sebagai mediator pembiayaan, sambung Stefanus, Koperasi Siswa Bangsa menerapkan sistem persentase. Para mahasiswa yang telah lulus akan membayar pinjaman sebesar 25 persen dari gaji yang mereka terima.

Sehingga besaran cicilan akan mengikuti perkembangan dari pendapatan mereka. Dana yang dikembalikan tersebut kemudian seutuhnya akan digulirkan kembali untuk membantu pembiayaan mahasiswa dari generasi selanjutnya, kata dia.

Hanya, tambah Stefanus, program student financing tersebut baru diterapkan di PSF. Ia mengakui, Siswa Bangsa masih mempertimbangkan untuk ekspansi ke perguruan tinggi lain di luar PSF.

Sumber: Kompas.Com

Wisuda Kepentingan Diri

Tiga puluh tahun lalu, lulus sekolah, yang namanya wisuda, hanya berlaku bagi perguruan tinggi, lulusan setingkat sarjana. Keluaran SD, SMP, SMU cukup puas dengan Selamatan Jenang Abang, home-made. Ibu buat sendiri kue-kue di rumah, jika anak-anaknya naik kelas atau lulus sekolah, sebagai wujud syukur ke hadirat Allah Ta’ala, atas segala prestasi yang telah diraih anak-anaknya. Kue-kue ini dibagikan ke tetangga sebelah dan sanak-saudara.

Saya sendiri tidak pernah merasakan ‘nikmatnya’ mengenakan toga, kecuali setelah mengenyam perguruan tinggi. Tapi, di mana sih sebenarnya kenikmatan hakiki mengenakan toga dan pakaian kebesaran wisuda?

Sejujurnya, saya tidak mengerti. Makanya, ketika keponakan saya wisuda beberapa waktu yang lalu, sementara dia sibuk sekali bangun pagi dan kemas-kemas dengan aneka macam persiapan wisuda, saya cenderung kurang peduli. Saya tidak bisa menutupi diri sendiri, bahwa wisuda semacam ini tidak nampak hikmahnya, kecuali ‘sia-sia’.

Sia-sia. Karena sebelum wisuda, orangtua repot sekali mencari duit Rp 700 ribu untuk membayar keperluan wisuda. Itu besarnya ongkos wisuda untuk perguruan tinggi kelas kabupaten. Kalau saya rinci, bisa meliputi bayaran orang penting yang mewisuda, panitia, konsumsi wisudawan dan undangan, sewa gedung, meja-kursi, dokumentasi dan administrasi. Belum terhitung transportasi!

Banyak sekali? Memang! Namanya juga wisuda. Apalagi untuk tingkatan perguruan tinggi terkenal. Makin bergengsi nama perguruan tingginya, semakin mahal biaya wisudanya. Padahal, sesudah wisuda, apa yang mereka butuhkan, kerja kan?

Bulan-bulan ini banyak sekolah dan perguruan tinggi yang sibuk dengan aneka ragam wisuda. Keponakan saya terlihat senangnya bukan main! “Om, potret ya?” ungkapnya, minta difoto. Tukang rias pun harus datang pagi-pagi hanya untuk urusan sanggul dan jarit. ‘Sudah begitu aturan dari fakultas’, katanya. Belum lagi mencocokkan model dan warna sepatu dengan pakaian yang dikenakan.

Pokoknya: wah!

Sesudah itu, jemputan mobil sewaan datang. Berangkat ramai-ramai! Bapak, ibu, adik, calon suami kalau perlu, dan wisudawati itu sendiri. Semua ikut. Jumlah lulusan 300, yang hadir 3000 orang. Hari itu, benar-benar istimewa.

Di tingkat pendidikan taman kanak-kanak (TK), tidak kalah serunya! Jalan desa macet hanya karena anak-anak TK mau wisuda. Orangtua disibukkan dengan acara wisuda yang biar kecil-kecilan, urusannya makin ruwet. Mulai dari sepatu, pakaian, makanan kecil, hingga pampers.

Bagi yang kaya, agar lengkap dokumentasi wisudanya, menyewa studio untuk bikin ‘film’ dan di-VCD-kan. Yang nggak mampu, tukang foto amatiran sudah lebih dari cukup. Kalau perlu di-‘klik’ sebelum berangkat.

Akan dikemanakan anak-anak ini sebenarnya?

Acara wisuda, pemberian gelar: ahli madya, sarjana, pasca sarjana, SPd, ST, Dr , DR, Prof, dan lain-lain, sebenarnya untuk apa? Kalau hanya ingin memberikan penghargaan kepada seseorang sesudah dianggap mampu menguasai ilmu tertentu dan pada waktu tertentu, toh Imam Syafi’i misalnya, yang hafal al-Qur’an pada umur 9 tahun, tanpa gelar apa-apa, tanpa penghargaan apa-apa, namanya juga bisa besar.

Imam Bukhari yang ‘membabat’ 9000 hadits di luar kepala, juga memiliki nama gemilang dan harum, tanpa embel-embel doktor atau profesor. Padahal ilmu cendekiawan muslim itu dimanfaatkan untuk kemaslahatan orang banyak. Kajian ilmu mereka bukan hanya sebatas demi kepentingan duniawi. Ilmu mereka menembus kebutuhan manusia hingga hidup sesudah mati. Subhanallah!

Pak Arif dan Pak Zais di kampung kami puluhan tahun sudah menjadi tukang cukur rambut tanpa sekolah. Tapi mereka ahli di bidangnya. Dihargai oleh masyarakat. Berpenghasilan pula. Sementara, yang lulusan sarjana saja sekarang ini banyak yang nganggur.

Atau, Mbak Sri yang hanya berprofesi sebagai tukang pijet. Hampir setiap sore dia dipanggil oleh orang-orang yang butuh sentuhan tangannya untuk melemaskan otot-otot yang kaku. Padahal, sekolah menengah pertama saja dia tidak lengkap.

Jadi, apa artinya pendidikan panjang, bertahun-tahun, formal, penuh teori, dan ditutup dengan pemberian toga, kalau kenyataanya produknya sebagian besar justru ‘kalah’ dengan seorang tukang cukur semacam Pak Arif, atau tukang pijat kayak Mbak Sri?

Pada zaman modern ini, kita telah dicetak untuk membentuk manusia yang menomor-satukan kebutuhan pribadi. Sejak kecil kita sudah mulai terbiasa dididik untuk mementingkan diri sendiri, alias egois. Mementingkan diri sendiri ini dikedepankan oleh sekolah-sekolah kita. Sehingga lulus sekolah seakan-akan identik dengan prestasi, gengsi dan kepentingan diri.

Anak-anak yang lulus sekolah tidak dibiasakan berkonsep, bahwa sekolah sebenarnya hanyalah bagian dari proses belajar yang tidak ada akhirnya. Sekolah-sekolah umumnya mengumbar jutaan janji, bahwa dengan sekolah, mereka bisa ini, itu; memiliki kompetensi ini dan itu, serta segudang sebutan profesi lainnya.

Padahal, di luar gedung sekolah sana, tenaga terampil tak terhitung jumlahnya. Tukang kayu, tukang batu, tukang gergaji, tukang gali, dan sebagainya. Mereka hanya kita sebut: ‘tukang’. Padahal, mereka adalah pasukan yang berdiri di garis terdepan dalam pembangunan rumah dan gedung-gedung, proyek perkantoran, hingga dam-dam pembangkit listrik. Merekalah mestinya yang menyandang insinyur sejati.

Mas Gatot, tetangga sebelah kami, hanya lulusan SD. Setiap hari, orang antri meminta tenaganya, memperbaiki kerusakan listrik dari rumah-ke rumah. Rekan saya, lulusan Elektro ITB, malah jadi budayawan. Biar keren kedengarannya kan?

Tanpa sekolah formalpun, tukang-tukang ini ternyata bisa juga hidup. Dalam arti, mereka bisa jadi ‘manusia’, tumbuh, bekerja, dan berkembang, tanpa harus duduk di bangku sekolah. Itu bukan berarti, bahwa pendidikan di sekolah formal tidak penting. Karena di sekolah yang formallah terdapat laboratorium, perpustakaan dan tenaga-tenaga ahli yang bersertifikat.

Namun demikian, orang-orang yang tidak sempat mengenyam pendidikan formal ini, bisa juga langsung praktek ke ‘laboratorium terbuka’. Mereka juga bisa mengunjungi ‘perpustakaan hidup’, serta ‘Kuliah Kerja Nyata’ tanpa batas. Mereka tidak butuh sekolah tinggi maupun universitas yang biaya wisudanya bikin bulu kuduk berdiri, untuk mencetak agar mereka jadi manusia yang berguna.

Wisuda dengan segala macam acara ‘ritual’nya, hanyalah satu contoh, betapa kita ini secara sistematik sudah dicetak sebagai manusia-manusia yang belajar mementingkan diri sendiri.

Apakah tidak dikatakan mementingkan diri sendiri, bilamana sesudah wisuda dan menyandang gelar tertentu, lantas kita berani ‘mematok’ harga, berapa seharusnya kita dibayar? Apakah tidak mementingkan diri sendiri namanya, bila sesudah wisuda, kita hanya mau bekerja kalau sesuai selera? Apakah tidak mementingkan diri sendiri namanya, bila sesudah wisuda, tidak mau kerja, karena terlalu berat tantangannya?

Lihatlah orang-orang desa yang serba bisa! Mencangkul di sawah, memanjat pohon kelapa, merawat tanaman di ladang, mengolah kayu untuk jadi bahan bangunan, mencari batu kerikil di sungai, membakar batu bata, menganyam bambu, hingga membangun rumah. Mereka memiliki segudang ilmu dan ketrampilan tanpa gantungan selembar sertifikat pun di ruang tamu mereka.

Mementingkan diri sendiri, egois, atau selfish, berarti meletakkan kepentingan diri sendiri diatas kepentingan orang lain. Di dalam Islam, mementingkan diri sendiri itu bertentangan dengan ajarannya. Hal itu terlihat dari sholat saja misalnya, kita dianjurkan berjamaah. Dengan berjamaah, terkandung nilai-nilai kebersamaan umat. Ringan sama dizinjing, berat sama dipikul.

Sesudah sholat, kalau mau, orang-orang bisa menyelesaikan banyak persolan hidup di dalam masjid. Sedangkan jika sholat sendiri-sendiri, siapa yang bakal membantu kita menyelesaikan masalah, dengan tinggal di rumah yang tertutup?

Susahnya, sudah tahu begitu, kita masih alergi kalau dikatakan egois!

Ketika mengerjakan sholat, kita ucapkan ‘Allahu Akbar’ (Allah Mahabesar). Itu berarti, kita ini kecil sekali dihadapan Allah. Hanya Allah Ta’ala Yang Besar, yang lainnya gurem. Jika sudah merasa kecil-kecil, hingga tidak berarti sama sekali, mestinya kita sadar, bahwa kita ini tidak pantas mementingkan diri sendiri. Dihadapan-Nya, kita bukan apa-apa!

Rasulullah SAW sebelum wafat, menangis tersedu. “Ummati…ummati….!” Kata beliau SAW, sambil berlinang air mata. ‘Umatku…umatku….’. Di sini, menunjukkan betapa kepribadian beliau SAW begitu mulia. Di saat menjemput mautpun, beliau SAW masih sempat memikirkan umatnya. Padahal jarak kita dengan beliau sekarang ini sudah lebih dari 14 abad lamanya. Subhanallah.

Demikian pula ketika Rasulullah SAW hijrah, sahabat-sahabat beliau SAW, begitu besar perhatiannya terhadap kepentingan dan arti kebersamaan sesama muslim, sehingga ada yang rela menceraikan istrinya untuk ‘diberikan’ kepada sahabatnya orang-orang Muhajirin. Beberapa orang sahabat malah menyerahkan separuh lahan pertanian yang dimilikinya sebagai sumber kehidupan sahabatnya yang baru (al-Qur’an, al-Hasyr: 9). Subhanallah!

Kita? Jangankan mau memikirkan orang lain. Sesama saudara kandung saja, makanan sering dihabiskan sendiri. Apalagi jika itu kesukaan kita. Pokoknya, kalau menyangkut yang enak-enak, kita maunya didahulukan. Sedangkan jika sudah giliran yang susah, membersihkan kamar, makan, kosek-kosek kamar mandi, atau yang melelahkan, kita tunjuk orang. Kita kedepankan kebutuhan kita, kita kesampingkan keperluan orang lain.

“We do not follow such system,” kata Alaa Tuti, insinyur komputer asal Libya yang ogah mengenakan dasi. ‘Kita telah mengikuti tradisi Barat’, lanjutnya. Ketika menyelesaikan studi, di universitas al-Fatah, Tripoli, salah satu perguruan tinggi terkenal di Libya, rektor universitas cukup menyampaikan ucapan selamat, kemudian menyerahkan ijazah kepada para lulusan. Demikian pula yang disampaikan Abdul Hakeem, yang menyelesaikan S2 Sastra Arab di India Selatan.

Sedari kecil, anak-anak seharusnya dibiasakan untuk tidak hidup dalam lingkungan yang memupuk pertumbuhan egoismenya. Seringkali kita memberikan puji-pujian kepada anak-anak secara berlebihan, hingga anak-anak akhirnya tumbuh ‘besar’ dan ‘sombong’. Berikan pujian yang sewajarnya, jika mereka menunjukkan prestasi dan kemajuan dalam studi. Berikan dorongan untuk memperbaiki kesalahan, bila hasil ujian mereka menurun. Tekankan untuk tidak mudah putus asa. Jangan pupuk dengan hal-hal yang tidak memberikan manfaat kepada mereka!

Wisuda, bisa dilakukan dengan cara-cara lain yang lebih sederhana, tanpa mengurangi maknanya. Bukannya dengan menghambur-hamburkan uang, tenaga dan waktu. Anak-anak keluaran TK, SD, SMP, SMU, dan perguruan tinggi, tidak membutuhkan pakaian kebesaran, pesta, serta mahalnya kertas sertifikat. Yang mereka butuhkan adalah, sesudah selesai studi nanti apa yang bisa mereka perbuat di lapangan sebagai manusia. Mampukah kita meyakinkan mereka akan hal ini?

Kita sudah hanyut dalam budaya yang salah. Cara-cara wisuda kita, tidak lebih dari memupuk pola pikir egois generasi muda. Budaya inilah yang tanpa kita sadari, hanya akan melahirkan generasi yang self centered-personality. Generasi yang berorientasi hanya kepada diri sendiri. Generasi yang motonya hanya ingin diperhatikan orang lain, bukannya mengajak memperhatikan orang lain.

Wallahu a’lam

Syaifoel Hardy
Shardy at emirates dot net dot ae

Menyontek

Saat ini di sekolah-sekolah baik SD, SMP, SMA, maupun Perguruan Tinggi telah melaksanakan ujian mid semester maupun ujian semester. Peserta ujian dalam hal ini siswa maupun mahasiswa berusaha untuk menyelesaikaan soal atau permasalahan yang telah disiapkan oleh penguji (guru maupun dosen) agar memperoleh hasil belajar sesuai dengan apa yang telah diterimanya selama melaksanakan proses pembelajaran. Suatu permasalahan klasik muncul, dimana ada peserta didik yang melakukan suatu tindakan yang dalam kehidupan sehari-hari yang sering kita namakan “menyontek”.

“Menyontek” merupakan salah satu fenomena pendidikan yang sering dan bahkan selalu muncul menyertai aktivitas proses belajar mengajar sehari-hari, tetapi jarang mendapat pembahasan dalam wacana pendidikan kita di Indonesia. Kurangnya pembahasan mengenai “menyontek” mungkin disebabkan karena kebanyakan pakar menganggap persoalan ini sebagai sesuatu yang sifatnya sepele, padahal masalah menyontek sesungguhnya merupakan sesuatu yang sangat mendasar.

Dalam konteks kehidupan bangsa saat ini, tidak jarang kita mendengar asumsi dari masyarakat yang menyatakan bahwa koruptor-koruptor besar, penipu-penipu ulung mungkin adalah penyontek-penyontek berat ketika mereka masih berada di bangku sekolah. Atau sebaliknya, mereka yang terbiasa “menyontek” di sekolah, memiliki potensi untuk menjadi koruptor, penipu, dan penjahat krah putih dalam masyarakat nanti. Mengapa para pendidik dan para peneliti begitu tertarik mempersoalkan masalah “menyontek”? Dalam menjawab pertanyaan ini paling tidak terdapat dua alasan yang mendasar yaitu: (a) “menyontek” jelas sangat bertentangan dengan nilai-nilai dasar (fundamental) pendidikan; (b) “menyontek” dalam segala bentuknya membawa resiko negatif terhadap siswa, sekolah, dan masyarakat.

Nugroho (2008) mengutip sebuah artikel dalam harian Jawa Pos yang memuat tentang hasil poling yang dilakukannya atas siswa-siswi SMP di Surabaya mengenai persoalan menyontek dengan hasil yang lumayan mengejutkan. Data itu menyebutkan bahwa, jumlah penyontek langsung tanpa malu-malu kucing mencapai 89,6 persen, langsung bertanya kepada teman mencapai 46,5 persen. Sedangkan 20 persen lebih berhati-hati pakai kode dan 14,9 persen mengandalkan lirikan. Untuk jumlah responden yang lulus dari “sensor” guru, sejumlah 65,3 persen.

”Menyontek” adalah salah satu wujud perilaku dan ekspresi mental seseorang. Ia bukan merupakan sifat bawaan individu, tetapi sesuatu yang lebih merupakan hasil belajar/pengaruh yang didapatkan seseorang dari hasil interaksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, ”menyontek” lebih sarat dengan muatan aspek moral daripada muatan aspek psikologis.

Dalam batas-batas tertentu ”menyontek: dapat dipahami sebagai sesuatu fenomena yang manusiawi, artinya perbuatan ”menyontek” bisa terjadi pada setiap orang sehingga asumsi di depan yang menyatakan bahwa ada korelasi antara perilaku ”menyontek” di sekolah dengan perilaku kejahatan seperti korupsi di masyarakat adalah terlalu spekulatif dan sulit dibuktikan secara nalar ilmiah. Meskipun demikian tak dapat disangkal bahwa ”menyontek” bisa membawa dampak negatif baik kepada individu, maupun bagi masyarakat. Dampak negatif bagi individu akan terjadi apabila praktek ”menyontek” dilakukan secara kontinyu sehingga menjurus menjadi bagian kepribadian seseorang. Selanjutnya, dampak negatif bagi masyarakat akan terjadi apabila masyarakat telah menjadi terlalu permisif terhadap praktek ”menyontek” sehingga akan menjadi bagian dari kebudayaan, dimana nilai-nilai moral akan terkaburkan dalam setiap aspek kehidupan dan pranata sosial.

Sebagai bagian dari aspek moral, maka terjadinya ”menyontek” sangat ditentukan oleh faktor kondisional yaitu suatu situasi yang membuka peluang, mengundang, bahkan memfasilitasi perilaku ”menyontek”. Seseorang yang memiliki nalar moral, yang tahu bahwa ”menyontek” adalah perbuatan tercela, sangat mungkin akan melakukannya apabila ia dihadapkan kepada kondisi yang memaksa.

Mencegah ”menyontek” tidaklah cukup dengan sekedar mengintervensi aspek kognitif seseorang, akan tetapi yang paling penting adalah penciptaan kondisi positif pada setiap faktor yang menjadi sumber terjadinya ”menyontek”, yaitu pada faktor siswa/ mahasiwa, pada lingkungan, pada sistem evaluasi dan pada diri guru/dosen.

Oleh karena setiap orang berpotensi untuk melakukan ”menyontek” dan terdapatnya gejala kecenderungan semakin maraknya praktek menyontek di dunia pendidikan, maka perlu segera dilakukan review atau reformulasi sistem atau cara pengujian, penyelenggaraan tes yang berlangsung selama ini baik yang diselenggarakan secara massal oleh suatu badan atau kepanitiaan maupun yang diselenggarakan secara individual oleh setiap guru atau dosen.

Kenalkan Anak dengan Science Fiction

Sebagai satu-satunya astronot terpilih dari Indonesia, kehidupan Dr Pratiwi Puji Lestari Sudarmono Phd tentunya tidak jauh-jauh dari dunia astronomi. Nyaris sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk mempelajari susunan galaksi dan sistem tata surya yang maha luas.

Dan ternyata, dunia itu pula yang diperkenalkannya sejak dini kepada buah hatinya, Pandito Aji Basuki. “Tujuannya untuk merangsang minatnya terhadap pengetahuan dan sains. Juga mengasah nalarnya,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, kawasan Cipete Selatan, Jakarta Selatan.

Untuk mengajarkan soal luar angkasa yang identik dengan pelajaran fisika, matematika dan astronomi-yang seringkali dianggap materi sulit–Pratiwi ternyata punya jurus jitu. Menurutnya, yang harus dilakukan pertama kali adalah mengenalkan dengan anak dengan cara yang semenarik mungkin.

“Misalnya, sejak kecil ajak anak jalan-jalan ke planetarium. Di sana dia bisa melihat berbagai hal yang menarik, seperti bintang dan lainnya,” ujar Pratiwi yang kini menjabat sebagai Direktur Riset Universitas Indonesia. Dengan suatu rekreasi sains seperti itu, katanya, para orang tua bisa dengan mudah menjelaskan soal bintang-bintang dan tata surya kepada anak. “Dan anak pun akan lebih mudah mengingat dan menyerapnya,” ujarnya sambil tersenyum.

Selain itu, si anak juga sering diperlihatkan dengan berbagai permainan sampai film science fiction yang bertema soal luar angkasa. Ini menurutnya akan mengasah imajinasi sang anak. “Kita pun bisa melihat seberapa cepat daya tangkap anak kita dengan melihat pemahamannya terhadap film itu,” katanya lagi.

Menariknya lagi, terhadap anaknya, Pratiwi rupanya juga sering memperlihatkan perlengkapan astronotnya kepada sang putera. Dari baju, tabung oksigen dan lain-lain. Dia pun sering mengenalkan soal pesawat, roket dan berbagai perlengkapan di dalamnya.

Pengenalan soal ruang angkasa sejak dini kepada anak, kata Pratiwi, sangat bermanfaat untuk merangsang di anak menggemari berbagai mata pelajaran penting. Seperti matematika, fisika, biologi dan lainnya. Dan juga, anak akan lebih peka dan peduli terhadap kemajuan teknologi.

Namun, tambahnya, dalam memberikan semua itu, peran orang tua sangat diperlukan. Karena si anak harus mendapat pengertian dan penjelasan yang benar. Ini pula yang membuat para orang tua dituntut mempunyai pengetahuan yang cukup.

Bagaimana kalau sang anak ingin menjadi astronot pula? Ditanya begitu, Pratiwi tersenyum. Menurutnya, menjadi seorang astronot adalah suatu kebanggaan. Karena selain dituntut harus memahami berbagai hal seputar astronomi dan dunia luar angkasa, penyeleksiannya juga super ketat. Selain itu, profesi ini pun sangat langka. “Saya sih terserah saja,” katanya lagi.(sep)

Kenalkan dengan Science Fiction Dulu

SEBAGAI satu-satunya astronot terpilih dari Indonesia, kehidupan Dr Pratiwi Puji Lestari Sudarmono Phd tentunya tidak jauh-jauh dari dunia astronomi. Nyaris sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk mempelajari susunan galaksi dan sistem tata surya yang maha luas.

Dan ternyata, dunia itu pula yang diperkenalkan Pratiwi sejak dini kepada buah hatinya, Pandito Aji Basuki. “Tujuannya untuk merangsang minatnya terhadap pengetahuan dan sains. Juga mengasah nalarnya,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, kawasan Cipete Selatan, Jakarta Selatan.

Untuk mengajarkan soal luar angkasa yang identik dengan pelajaran fisika, matematika dan astronomi-yang sering dianggap materi sulit-Pratiwi ternyata punya jurus jitu. Menurutnya, yang harus dilakukan kali pertama adalah mengenalkan pada anak dengan cara semenarik mungkin.

“Misalnya, sejak kecil ajak anak jalan-jalan ke planetarium. Di sana dia bisa melihat berbagai hal yang menarik, seperti bintang dan lainnya,” ujar Pratiwi yang kini menjabat sebagai Direktur Riset Universitas Indonesia. Dengan rekreasi sains seperti itu, menurut ia, para orang tua bisa dengan mudah menjelaskan soal bintangbintang dan tata surya kepada anak. “Si kecil pun akan lebih mudah mengingat dan menyerapnya,” ucapnya sambil tersenyum. Karena peran orang tua sangat diperlukan, maka para orang tua dituntut mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai hal ini. Selain itu, si anak juga sering diperlihatkan dengan berbagai permainan sampai film science fiction yang bertema luar angkasa.

Ini menurutnya akan mengasah imajinasi sang anak. “Kita bisa melihat seberapa cepat daya tangkap anak kita dengan melihat pemahamannya terhadap film itu.” Kalau anak sudah tertarik, selanjutnya anak akan lebih peka dan peduli terhadap kemajuan teknologi. Menariknya lagi, terhadap Pandito, Pratiwi rupanya juga sering memperlihatkan perlengkapan astronotnya kepada sang putera. Dari baju, tabung oksigen dan lain-lain.

Korupsi Pendidikan sangat Merugikan Bangsa

Korupsi yang terbesar di negeri ini justru dilakukan oleh kalangan pendidikan.

Korupsi dunia pendidikan itu berbentuk pengatrolan nilai dari oknum pendidik, untuk meluluskan peserta didiknya. Pada Rakernas Perguruan Tinggi se-Indonesia di Yogyakarta, Kamis (27/3), Menko Kesra mengatakan, selama ini kalangan pendidik akan sangat bangga jika anak didiknya dapat lulus 100%. \”Akibatnya sangat buruk, anak-anak menjadi merasa bahwa belajar itu tidak perlu.\”

Dia menjelaskan, sekarang ini kalangan pejabat, termasuk mereka yang duduk di dunia pendidikan, harus bisa tegas tidak meluluskan anak yang tidak pantas untuk naik kelas atau tidak pantas lulus karena nilainya memang kurang mencukupi. \”Bahkan perlu kita menertawakan sekolah-sekolah yang masih bangga dengan keberhasilannya meluluskan 100% anak didiknya.\”

Pengatrolan nilai demi angka kelulusan semacam ini harus segera dihilangkan. Sebab menurut Menko, hal ini akan berakibat fatal, yaitu pembodohan dan menimbulkan kemalasan peserta didik.

Pengawasan BBM

Pada kesempatan yang sama, Menko Kesra menandatangani kerja sama dengan 35 perguruan tinggi di Indonesia, untuk terlibat melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PKPS BBM (Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakan Minyak), yang akan dilaksanakan 2003 ini di sejumlah daerah.

Beberapa waktu lalu pihak Menko Kesra sudah meminta kesediaan kalangan perguruan tinggi untuk membantu mengawasi pelaksanaan PKPS BBM, demi mencegah kebocoran dan penyalahgunaan dana.

Ketua Pelaksana Koordinasi Sosialisasi dan Pemantauan PKPS BBM Kantor Menko Kesra Soedjono Poerwaningrat mengatakan, pemantauan dan evaluasi yang dilaksanakan oleh perguruan tinggi, berbeda dengan pemantauan yang dilakukan oleh unsur pemerintahan.

Ia mengatakan, pemantauan yang dilakukan oleh perguruan tinggi itu antara lain berupa sejauh mana pelaksanaan PKPS BBM berlangsung, sesuai dengan ketentuan sasaran yang dituju, jumlah dan mutu, serta waktu yang ditetapkan.

\”Selain itu pihak perguruan tinggi akan menganalisis faktor penyebab bila terjadi ketidaktepatan, melakukan kajian evaluatif tentang efektivitas program, dan memberikan umpan balik kepada penyelenggara PKPS BBM tentang masalah, hambatan penyaluran kompensasi serta upaya perbaikan yang dapat ditempuh selama pelaksanaan program itu,\” jelasnya.

Disebutkan, selama tiga tahun terakhir ini dana PKPS BBM terus mengalami kenaikan. \”Pada 2000 lalu sebesar Rp800 miliar, pada 2001 menjadi Rp2,2 triliun, 2002 menjadi Rp2,8 triliun, dan pada 2003 ini dialokasikan sebesar Rp4,4 triliun.\”

Menurut Soedjono, tujuan program tersebut adalah untuk meringankan beban pengeluaran masyarakat khususnya yang tidak mampu, dengan kompensasi yang meliputi beras murah, bantuan pendidikan umum dan pendidikan agama, bantuan pelayanan kesehatan, bantuan bahan makanan untuk panti sosial, bantuan alat kontrasepsi, bantuan transportasi, pemberdayaan masyarakat pesisir, dana bergulir, dan penanggulangan pengangguran.

Perguruan tinggi yang terlibat dalam kerja sama pengawasan ini antara lain Institut Teknologi Bandung, Universitas Islam Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Universitas Haluoleo, dan lain-lain. (media)

TRADISI TANPA EVALUASI

“Untuk orang-orang yang merasa peduli”

oleh Supratman Zakir, M. Pd., M. Kom

Tulisan ini merupakan sebuah refleksi yang beranjak dari keinginan untuk menjadikan STAIN Bukttinggi tidak lagi sebagai sebuah Perguruan Tinggi yang termarginalkan akan tetapi menjadi sebuah perguruan tinggi yang “orang” di dalamnya (Dosen – Mahasiswa – Karyawan) ” merasa bangga menjadi bagian dari STAIN. Tapi keinginan tersebut makin hari makin terkikis, makin pupus dan hampir tenggelam ketika melihat kondisi, ketika melihat perilaku yang berkiblat pada “tradisi” tanpa adanya evaluasi apalagi edukasi.

Kondisi tersebut dicoba untuk diterobos dengan melakukan inovasi-inovasi  dalam rangka membuka mata, telinga dan hati dengan maksud perilaku “tradisi” dapat berubah menjadi perilaku yang profesional dan proporsional. Tidak heran beberapa SDM “bergizi” istilah kami di kampus kita yang tercinta ini, satu persatu mulai menjauh, dan tidak menutup kemungkinan yang lain akan mengikuti jejak yang sama. Situasi ini jelas akan merugikan kita semua, terutama STAIN secara institusi.

Kondisi akan semakin parah jika komponen SDM masih memiliki pola pikir “PNS lama” – maju atau mundurnya STAIN, gaji juga sebanyak itu – jika pola pikir ini telah dan masih akan menjadi pegangan, maka otomatis STAIN akan tetap seperti dulu, sekarang dan akan datang, dan parahnya akan “kuadrad” jika para pimpinan masih tetap mempertahankan kondisi dan “tradisi” ini.

Sebanarnya masih banyak orang-orang yang memiliki idealisme dan kompetensi untuk membesarkan STAIN, akan tetapi komunikasi yang kurang, koordinasi yang tidak jelas, administrasi yang “kadaluarsa” itu semua menjadikan kita terhambat, terjebak dalam “guyonan” bahkan cemoohan “lapau”. Refleksi di atas beranjak dari pengalaman, yang membuat rintihan dan gejolak hati sehingga akhirnya melahirkan jiwa pemberontakan. Hal itu dikarenakan “kebijakan – policy” tradisi, dan kalau boleh disebutkan dengan  istilah “kebijakan usang” yang justru di kampus ini seolah kebijakan baru. Ingat, Kita sudah heterogen, memiliki pengalaman yang berbeda.

Apakah kita harus “berkeringat” sehingga putus urat leher kita mempertahankan “tradisi” yang sebenarnya boleh kita katakan “kuno, usang, tidak update”, dan seperti telah diuraikan di atas hanya akan menjadi bahan “guyonan” bahkan “cemoohan”.

Membangun Tradisi Mengejar Prestasi

Oleh: DR. Ismail Novel, M.Ag

e-mail : ketua@stainbukittinggi.ac.id

STAIN Bukittinggi memiliki akar sejarah yang cukup kuat pada blantika pendidikan Nasional. Perguruan tinggi ini sebenarnya lebih dahulu berdiri dari pada IAIN Imam Bonjol Padang yang kemudian menjadi induknya, sebelum berubah menjadi Sekolah Tinggi sepuluh tahun yang lalu. Kekuatan perguruan tinggi ini ditopang oleh sejarah sosial intelektual masyarakat Bukittinggi dan Kabupaten Agam pada khususnya dan Minangkabau pada umumnya. Cukup banyak tokoh intelektual yang lahir dari daerah ini, seperti Dr. Muhammad Hatta, Prof. Dr. HAMKA, Adam Malik, dan Prof. Dr. Harun Nasution.

Selain tokoh-tokoh tersebut, sebenarnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang lahir dari rahim kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam ini. Tapi, sekedar untuk membuktikan bahwa daerah ini memiliki sejarah sosial intelektual yang kuat, nama-nama tersebut cukup memadai untuk dijadikan jaminan. Sejalan dengan itu, kultur masyarakat Bukittinggi dan kabupaten Agam pada khususnya dan Minangkabau pada umumnya yang sangat terbuka bagi perubahan dan pembaharuan menjadi kekuatan tersendiri pula bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di kawasan ini. Begitu pula, dengan semangat keagamaan masyarakatnya yang tergolong tinggi. Hal itu, tidak hanya karena adagium adat, Adat Basandi Syara’, Syarak Basandi kitab Allah , Syara’ mangato adat mamakai saja, melainkan memang iklim keagamaan terlihat sangat baik di daerah ini.

Dalam pada itu, letak daerah yang sangat strategis yang berada di jalur lintas Sumatera, membuat daerah ini mudah dijangkau dari berbagai penjuru Sumatera. Apa lagi daerah ini adalah daerah wisata yang banyak dikunjungi oleh turis, baik local maupun manca negara. Dampak positif dari Bukittinggi sebagai kota wisata dengan keindahan alamnya membuat Bukittinggi dengan segala aspek sosial dan kulturalnya mudah dikenal.

Dari banyak faktor yang dikemukakan di atas, agaknya yang paling menentukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan teknologi di daerah ini adalah tradisi keilmuan dan keagamaan masyarakat kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam yang sangat kuat. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya sekolah dan madrasah yang tumbuh dan berkembang di kota dan kabupaten ini. Bahkan  sebagain besarnya adalah sekolah-sekolah dan madrasah madrasah yang sudah mensejarah.

Sebutlah umpamanya Madrasah Sumatera Thawalib Parabek dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang untuk jenis Madrasah, SMA 1 dan SMA 2 untuk jenis Sekolah Lanjutan Atas, serta STM Muhammadiyah dan STM Negeri untuk sekolah kejuruan. Madrasah dan sekolah tersebut sudah cukup banyak melahirkan tokoh, bahkan pahlawan-pahlawan terpelajar (untuk menyebut bahwa mereka adalah orang-orang yang berpendidikan) yang cukup berjasa membangun Republik ini. Tradisi keilmuan dan keagamaan tersebut tampaknya tetap bertahan sampai saat ini.

Bahkan terdapat kecenderungan menguat. Hal itu ditandai dengan munculnya keinginan masyarakat untuk mempertahankan tradisi keilmuan dan keagamaan tersebut secara sinergis. Artinya, masyarakat kota dan kabupaten ini ingin generasi penerus mereka tidak buta teknologi (melek teknologi) sekaligus taat menjalankan agamanya. Gagasan agar perguruan tinggi Agama Islam mampu melahirkan Ulama Intelektuan dan Intelektual Ulama yang pernah digulirkan oleh almarhum Munawir Sadzali (Menag zaman Orde Baru) tampaknya relevan untuk dikembangkan.

STAIN Bukittinggi dengan paradigma lama yang hanya mempelajari ilmu-ilmu yang terbatas yakni syari’ah dan tarbiyah tentu tidak dapat mempertahankan, kalau tidak disebut mengembangkan, tradisi keilmuan dan keagamaan masyarakatnya. Oleh sebab itu, adalah sangat beralasan bila STAIN Bukittinggi membuka program studi-program studi baru, baik sosial maupun eksakta. Pembukaan program studi baru tersebut tentu saja dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat kebutuhan masyarakat akan program studi dimaksud.

Agar terwujud sinergisitas antara ilmu pengetahuan dan teknologi dengan agama, program-program studi yang dibuka mestilah diberi landasan agama yang kuat. Hal ini bisa dilakukan dengan system penidikan 24 jam yakni dengan membuka program ma’hat (semacam pesantren tinggi). Dengan program ini, pada pagi hari sampai jam 14.00 wib mahasiswa belajar di kampus dan setelah itu, dari pukul 14.00 wib sampai malam hari mereka belajar ilmu-ilmu keislaman di asrama.

Lantas, apakah paradigma semacam ini tidak melawan arus. Jawabnya, adalah tidak. Justeru upaya untuk menjangkau ilmu-ilmu keislaman yang lain, selain syari’ah dan tarbiyah adalah tindakan mengikuti arus. Karena, derasnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknolog, menghendaki agar perguruan tinggi agama Islam bisa pula mengambil peran dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu. Apalagi, ilmu keislaman itu sebenarnya bukan hanya terbatas kepada ilmu syariah, tarbiyah, usuluddin, adab, dan da’wah. Di samping semua itu, masih ada ilmu ekonomi, teknik,  kedokteran, pertanian, dan lain sebagainya. Dan al-Quran sesungguhnya memuat banyak hal yang bisa dikembangkan menjadi konsep dan teori berbagai ilmu pengetahuan.

Karena, al-Quran tdak pernah membatasi dirnya dengan ilmu-ilmu tertentu yang serng dipersepsikan sebagai ilmu-ilmu keislaman. Bahkan nama-nama al-Quran sendiri banyak yang memakai nama-nama yang sering difahami sebagai non agama. Umpamanya al-Baqarah (lembu), al-hadid (besi), an-namal (lebah). Itu artinya, Islam tidak terbatas hanya pada tarbiyah, syari’ah, ushuluddin, da’wah dan term-term keagamaan lain. Islam merupakan ajaran yang konfrehensif dan universal.

Islam merupakan agama yang meliputi segala aspek kehidupan dan dapat diterapkan pada setiap zaman. Dengan alasan-alasan seperti yang dikemukakan di atas, STAIN Bukittinggi perlu membangun tradisi keilmuan baru dengan mensinergikan tradisi keilmuan dan tradisi keagamaan dalam kampus. Dengan kata lan, apa pun program studi yang dibuka atau dilaksanakan diberi landasan agama yang kuat. Sehingga, bahasa Arab, Tafsir, Hads, dan Sejarah Islam, menjadi ilmu-ilmu yang berlaku bagi setiap jurusan dan program studi.

PERGURUAN TINGGI DENGAN STATUS NON AKREDITASI

Oleh : Supratman Zakir[1]


I.  PENDAHULUAN
Bila dilihat kondisi objektif Pendidikan Tinggi hari ini, terjadi kenaikan kuantitas yang tajam baik dalam hal jumlah mahasiswa, dosen, maupun tenaga administratif. Kondisi ini telah membawa dampak pada pengelolaan Perguruan Tinggi kearah pengelolaan secara kuantitatif sehingga mendorong tumbuhnya universitas atau mass university yang “kuantitatifisme” yang pada gilirannya akan menimbulkan beragam permasalahan diantaranya sulitnya menegakkan etika akademis seperti :1). Jumlah dosen dan mahasiswa yang terlalu besar akan memperlemah hubungan keakraban yang pada akhirnya sulit untuk membentuk dan menghidupkan suasana ilmiah. 2). Terdapat perasaan bangga, baik dari kalangan dosen maupun mahasiswa yang tergabung dalam universitas besar karena prestasi teman sejawatnya yang terkemuka (bukan dirinya) yang ditopang keterkaitan akademis dan masyarakat ilmiah lebih luas. 3). Harapan masyarakat terhadap Perguruan Tinggi atau universitas akan output yang berprestasi dan berdedikasi. 4). Setelah diadakan penilaian ternyata banyak Perguruan Tinggi yang belum terakreditasi atau masih mendapat nilai “D” dalam artian sebenarnya tidak boleh beropersi. 5). Perguruan Tinggi menjadi lahan bisnis yang konsumtif yang menawarkan gelar-gelar simbolik. 6). Manajemen yang amburadul membuat kualitas (mutu ilmiah) Perguruan Tinggi terpuruk lebih dalam.
Melihat hal tersebut di atas tenyata tidak sedikit Perguruan Tinggi di Indonesia baik Perguruan Tinggi Negeri Umum maupun Perguruan Tinggi Negeri bidang keagamaan yang belum terakriditasi apalagi perguruan Tinggi Swasta. Hal ini berarti begitu banyak perguruan tinggi yang tidak boleh beroperasi dalam penilaian BAN. (http://www.ban-pt.or.id)
Kebanyakan di negara berkembang, Perguruan Tinggi belum sepenuhnya dikatakan sebagai “Instrumen Pembangunan” dalam arti yang sebenarnya, tetapi masih banyak menjadi “Simbol Pembangunan” itu sendiri. Stigma kian memasyarakat dan semakin kuat karena Perguruan Tinggi masih terlalu dikontrol oleh negara maju, Pemerintah atau pihak Yayasan (Perguruan Tinggi Swasta) sehingga ia sulit menjadi jati dirinya sendiri yang dikarenakan intervensi yang berlebihan dari pihak-pihak yang merasa berhak untuk ikut campur tangan.

Manajemen yang tertutup (close management) sering kali menjadi kendala kemajuan bagi sebuah Perguruan Tinggi, karena kekuatan finansial lebih unggul dari kualitas Perguruan Tinggi itu sendiri. Kepemimpinan yang bersifat  kekeluargaan dan fasilitas yang kurang diperhatikan sering menjadi sorotan BAN dalam penilaian yang akhirnya menjatuhkan vonis non Akreditasi atau hanya memberi nilai “D” pada Perguruan Tinggi yang bersangkutan.

Dari penjelasan di atas maka dapat diidentifikasi berapa permasalahan yang mengakibatkan beberapa atau bahkan banyak perguruan tinggi di Indonesia yang belum atau tidak terakreditasi atau hanya mendapat nilai “D” dengan artian perguruan tinggi tersebut dinilai tidak boleh beroperasi oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN).

Beberapa aspek yang menjadi acuan bagi BAN dalam melakukan penilaian dalam proses akreditasi perguruan tinggi adalah sebagai berikut : 1). Kualitas Lulusan, 2) Profesionalisme dosen dan Karyawan, 3) Fasilitas (Sarana dan Prasarana, 4). Dana, 5). Manajemen, 6). Gaya Kepemimpinan, 7). Birokrasi, 8.) Yayasan keluarga, 9). Lingkungan, 10). Input Mahasiswa, 11). Kurikulum dan 12). Penggunaan Teknologi Informasi. (http://www.ban-pt.or.id)

Dari beragam aspek di atas, seyogyanya dapat dikaji peraspek secara mendalam dan konfrehensif. Akan tetapi dalam artikel ini hanya membahas secara umum yang kiranya dapat meyentuh semua aspek yang menjadi bahan acuan bagi BAN dalam menilai sebuah perguruan tinggi untuk mendapatkan status akreditasi yang menyatakan kredibelitas perguruan tinggi yang bersangkutan.

II. KAJIAN TEORITIS

a. Perguruan Tinggi

Pendidikan tinggi merupakan suatu proses dimana pembelajar atau mahasiswa dianggap sebagai keluaran (output) yang mempunyai nilai atau harga (value) dalam pasaran kerja, dan keberhasilan itu sering diukur dengan tingkat penyerapan lulusan dalam masyarakat dan kadang-kadang diukur juga dengan tingkat penghasilan yang mereka peroleh dalam karirnya sehingga Perguruan tinggi sering diartikan sebagai penghasil tenaga kerja yang bermutu (qualified manpower).

Barnet (1992) dalam http://www.ban-pt.or.id/id_konsep-akreditasi.htm (diakses tanggal 23 Mei 2007) menjelaskan bahwa Perguruan tinggi sebagai organisasi pengelola pendidikan yang efisien. Dalam pengertian ini perguruan tinggi dianggap baik jika dengan sumber daya dan dana yang tersedia, jumlah mahasiswa yang lewat proses pendidikannya (throughput) semakin besar.

Dari beberapa pengertian di atas dapat dipahami bahwa Indikator sukses kelembagaan terletak pada cepatnya pertumbuhan jumlah mahasiswa dan variasi jenis program yang ditawarkan. Rasio mahasiswa-dosen yang besar dan satuan biaya pendidikan setiap mahasiswa yang rendah dipandang sebagai ukuran keberhasilan perguruan tinggi.

b. Konsep Dasar Akreditasi

Akreditasi dipahami sebagai penentuan standar mutu serta penilaian terhadap suatu lembaga pendidikan (dalam hal ini pendidikan tinggi) oleh pihak di luar lembaga pendidikan itu sendiri. (http://www.ban-pt.or.id/id_konsep-akreditasi.htm.

Penilaian tersebut, khususnya di Indonesia dilakukan oleh sebuah badan yang independen yaitu, Badan Akreditasi Nasional (BAN) dan di perguruan tinggi disebut dengan BAN-PT.

BAN-PT berdiri pada tahun 1994, berlandaskan UU No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan PP No. 60 tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi. BAN-PT memiliki wewenang untuk melaksanakan sistem akreditasi pada pendidikan tinggi, baik untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS), Perguruan Tinggi Agama (PTA) dan Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) serta kerjasama dengan insitiusi pendidikan tinggi di dalam negeri, yang ditawarkan oleh institusi pendidikan tinggi dari luar negeri. http://www.ban-pt.or.id/.

Fungsi utama BAN-PT menurut peraturan perundangan yang ada (UU RI No. 20 tahun 2003, PP RI No. 60/1999, SK Menteri Pendidikan Nasional No. 118/U/2003), pada dasarnya adalah: membantu Menteri Pendidikan Nasional dalam pelaksanaan salah satu kewajiban perundangannya, yaitu penilaian mutu perguruan tinggi, yaitu Perguruan Tinggi Negeri, Kedinasan, Keagamaan, dan Swasta. Tugas utama tersebut meliputi (1) meningkatkan mutu pendidikam tinggi, (2) memperkenalkan serta menyebarluaskan “Paradigma Baru dalam Pengelolaan Pendidikan Tinggi”, dan (3) meningkatkan relevansi, atmosfir akademik, pengelolaan institusi, efisiensi dan keberlanjutan pendidikan tinggi. (Tadjudin, 2000 dalam http://www.ban-pt.or.id/)

c. Pengertian Sistem

Menurut Hamalik (2002) Sistem secara teknis berarti seperangkat komponen yang saling berhubungan dan berkerja sama untuk mencapai suatu tujuan. Dan pendidikan merupakan sebuah system.

Sedangkan menurut Mudyaharjo (1993, dalam Hamalik, 2002) sistem didefinisikan sebagai suatu kesatuan dari berbagai elemen atau bagian-bagian yang mempunyai hubungan fungsional dan berinteraksi secara dinamis untuk mencapai hasil yang diharapkan.

Dari definisi di atas suatu sistem yang lain akan muncul karena mimiliki elemen-elemen tersendiri, dimana elemen tersebut juga merupakan sebuah system tersendiri. Artinya sebuah system dapat terdiri dari sub system–sub system yang pada gilirannya sampai kepada sebuah system yang amat besar dan dinamakan dengan supra sistem.

d. Pendekatan sistem

Pendekatan system dalam pendidikan merupakan satu cara yang memandang pendidikan secara menyeluruh dan sistemik, tidak parsial atau fragmatis. Pendidikan sebagai suatu system merupakan satu kesatuan yang utuh, dengan bagian bagian-bagiannya yang berinteraksi satu sama lain.

Pendekatan system mengandung dua aspek, yaitu aspek filosofis dan aspek proses. Aspek filosofis merupakan pandangan hidup yang mendasari sikap siperancang system yang terarah pada realita. Sedangkan apek proses meruapakan suatu proses dari implementasi system yang telah dirancang.

e. Beberapa Model pendekatan Masalah

Dalam pemecahan masalah beberapa model dapat digunakan di antaranya model System Approach yang ditawarkan oleh Aristotle (Ismail Pulungan, 2001). System Approach terdiri dari delapan langkah yaitu Analisis kebutuhan (Needs), Penentuan Tujuan (objective), Analisis hal-hal yang mendasar (Constraint), Pemilihan beberapa alternative (Alternative), pemilihan alternative (select), Penerapan Alternatif (Implement), Evaluasi program (Evaluate) dan memodifikasi program jika diperlukan (Modify).

Model Aristotle di atas banyak digunakan dalam pemecahan masalah sehingga model tersebut sangat di kenal dengan “model pendekatan system”.

Selain model Aristotle, Deming menawarkan sebuah model yang dinamakan dengan “Total Quality Management” . TQM terdiri dari Perencanaan (Plan), Pelaksanaan (Do), Aksi (Act) dan Penilaian (Check). (Ismail Pulungan, 2001)

III.  PEMBAHASAN

a.  Pemecahan Masalah

Bagaimana Perguruan Tinggi yang belum terakreditasi atau hanya mendapat nilai “D” dari BAN-PT keluar dari masalah ini ?. untuk menjawab pertanyaan tesbut perlu adanya solusi yang tepat untuk menyelesaikannya. Beberapa langkah yang dapat ditempuh oleh Perguruan Tinggi dapat mempedomani langkah yang kemukakan oleh Lehman pada simposium 1967 (dalam Ismail Pulungan, 2001) yang diadopsi dari teori Aristotle yang mengemukakan pendekatan-pendekatan beberapa system malalui delapan langkah pendekatan :

1. Menentukan Needs

Untuk langkah pertama adalah menentukan kebutuhan apa yang dibutuhkan oleh Perguruan Tinggi yang bekum terakreditasi atau hanya mendapat nilai “D” sehingga perguruan tinggi yang bersangkutan dapat kembali beroperasi dan selalu meningkatkan status akreditasinya dikemudian hari

2. Penjabaran Objektif

Setelah mengetahui needs maka ditentukan dahulu “real need” (kebutuhan nyata) mana yang mungkin dipenuhi dan mana yang tidak mungkin terpenuhi. Tentu tujuan utama adalah solusi terhadap nilai Perguruan Tinggi

3. Mempelajari Konstrain

Perencanaan dapat saja berubah, oleh karena itu akan tidak salah konstrain (hal-hal yang mendasar) dipelajari terlebih dahulu dalam menelusuri solusi masalah, seperti faktor internal dan eksternal Perguruan Tinggi

4. Menyiapkan Alternatif

Banyak alternatif yang bisa diambil, tapi semua itu belum tentu dapat dikerjakan.

5. Seleksi

Setelah beberapa alternative diambil maka penyeleksian juga perlu dilakukan, dalam hal ini alternatif yang diajukan setelah penyeleksian adalah :

  1. Rekrutmen melalui seleksi yang ketat
  2. Pengembangan dosen melalui :
  3. Tugas belajar (S2 atau S3)
  4. Seminar / Lokakarya
  5. Penelitian
  6. Melengkapi Fasilitas
    1. Ruang Kuliah
    2. Perpustakaan
    3. Laboratorium Teknologi Informasi
    4. Laboratorium Penunjang
    5. Perkantoran
    6. Aula
    7. Melalui Open Management yang objektif terhadap pihak yayasan dan transparan

6. Implementasi

Setelah alternatif diseleksi, ini semua akan tidak berarti bila tidak diimpelemtasikan dengan tindakan nyata.

7. Evaluasi

Setelah tahap impelemtasi maka untuk mengetahui keefektifan dan keefesienan harus dilakukan evaluasi terhadap proses problem solving

8. Modifikasi

Kemungkinan untuk memodifikasi alternatif yang telah dipilih bila dibutuhkan

b. Analisa Keuntungan dan Kelemahan

KEUNTUNGAN KELEMAHAN
1. Sistem Rekruitmen :

  1. Terpilihnya dosen yang kualified, profesional dan pengembangan kedepan
  2. Tersaringnya input yang berkualitas

2. Pengembangan Dosen

  1. Tugas Belajar

?   Meningkatkan kualitas dosen

?   Mampu berkompetitif dengan PTN dan PTS lainya

  1. Seminar / Lokakarya

?   Peningkatan Wawasan

?   Pertukaran Informasi

?   Kredit Point

?   Promosi

  1. Penelitian

?   Penemuan baru

?   Informasi yang up to date

?   Pengembangan PT

?   Pengembangan Needs Assessment

-

II. Melengkapi Fasilitas

  1. Kelancaran proses perkuliahan
  2. Kemudahan mendapatkan referensi dan literatur
  3. Pengujian, keterampilan, praktek
  4. Promosi
  5. Pelayanan Administrasi yang prima
  6. Memperlancar kegiatan akademik

III. Sistem Yayasan

(Open Management)

  1. Cepat maju
  2. Dapat dipertanggung jawabkan secara moral dan material
  3. Mudah melakukan pembinaan
  4. Memfungsikan unsur akademisi
Membutuhkan Biaya / Waktu yang banyak

Proses Rumit

Tidak banyak tenaga yang tersedia sesuai dengan kualifikasi

Dana Besar

Waktu Panjang

Birokrasi agak rumit

Dana

Biaya

Lokasi

Tenaga Kerja

Dana

Waktu

Tenaga Profesional

Penyimpitan intervensi keluarga

Hilangnya unsur KKN

Tidak bisa menguasai segi akademik maupun segi finansial

Berkurangnya hak feto

Keputusan harus mengikut sertakan akademisi

c. Alternatif Pilihan dan Alasan Pemilihan
Open Management dari pihak yayasan sangat diperlukan, karena dengan Open Management akan mengurangi keragu-raguan, menepis ketidak percayaan masayarakat kepada pengelolaan administrasi pada Perguruan Tinggi tersebut, terutama hal-hal yang menyangkut manajemen dan pertanggung jawaban keuangan. Setelah itu pelaksanaan Open Management dapat memenuhi tuntutan perkembangan IPTEK dalam era Teknologi Informasi.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

Beberapa model pendekatan dapat digunakan dalam pemecahan masalah seperti “System Approach” dari Aristotle, Total Quality Management dari Deming.

Untuk meninjau permasalahan pendidikan maka tidak dapat dilakukan secara pragmatis dan parsial, akan tetapi harus dilihat secara integral dan utuh sehingga dapat menemukan solusi yang menyeluruh, lengkap dan holistik .

Perguruan tinggi yang belum terakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) supaya dapat merespons dengan serius beberapa system yang terkait dengan mutu, seperti system rekruitmen, fasilitas, kualitas tenaga pengajar/dosen serta manajemen pengelolaan.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Ansyar, M, (2001), Kurikulum Menyonsong Otonomi Pendidikan di Era Globalisasi : Peluang, tantangan, dan Arah”, Forum Pendidikan, No. 2 (26), Juni 2001.

Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Konsep Akreditasi, http://www.ban-pt.or.id/id_konsep-akreditasi.htm, diakses tanggal 23 Mei 2007.

———-, Pengantar BAN-PT, http://www.ban-pt.or.id/id_konsep-akreditasi.htm, diakses tanggal 23 Mei 2007.

Dewi Padmo, (editor), Teknologi Pembelajaran – Upaya Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia, Universitas Terbuka, Jakarta, 2003

Dewi Salma Prawiradilaga & Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidikan, Prenada Media, Jakarta, Edisi I, 2004

IGAK Wardhani, Program Tutorial dalam Sistem Pendidikan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh. Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, 1(2), hal. 41-45.

Indra Djati Sidi, Menuju Masyarakat Belajar, Paramadina & PT. Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 2001

Ismail Pulungan , Manajemen Mutu Terpadu, PAU-PPAI-UT, Universitas Terbuka, Jakarta, 2001

Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, PT. Bumi Aksara, Jakarta, 2002

Paulina Panen, Pendidkan sebagai Sistem, PAU-PPAI-UT, Universitas Terbuka, Jakarta, 2001

Yusuf Hadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Prenada Media, Jakarta, Edisi I, 2004

Meraih Sukses Di Sekolah Luar Negeri

Berbagai informasi mengenai bersekolah di luar negeri masih sangat minim. Padahal kesuksesan belajar di luar negeri bergantung kepada persiapan kita sebelum berangkat.

Ada berbagai alasan untuk bersekolah di luar negeri, antara lain:

§ Sekolah di luar negeri memiliki fasilitas yang lebih baik daripada sekolah di Indonesia.
§ Lingkungan kampus di luar negeri lebih kondusif untuk belajar dan melakukan penelitian dibandingkan dengan lingkungan dikampus Indonesia pada umumnya.
§ Bisa lebih fokus untuk belajar/meneliti.
§ Lebih mudah akses ke pakar.

I. Persiapan
Untuk melakukan persiapan, sebaiknya anda memperhatikan beberapa hal berikut ini:

Memilih Perguruan Tinggi
Memilih perguruan tinggi yang bagus harus berhati-hati karena bisa jadi kita tidak diterima karena persyaratan masuknya terlalu tinggi, biaya sekolahnya sangat mahal, biaya hidup yang mahal, atau kemungkinan untuk lulusnya kecil karena kualitas kemampuan kita yang mungkin kurang mendukung.

Untuk memilih Perguruan Tinggi, anda dapat melakukannya dengan cara:

1. Melalui University Calendar
Informasi ini tersedia dalam bentuk buku (hardcopy) dan bisa diperoleh dari administrator universitas yang bersangkutan, misalnya dari “admission office”. Selain itu, informasi dapat diperoleh melalui Internet atau mencari lulusan dari perguruan tinggi tersebut dan meminta masukan.

2. Melalui Jalur Profesor
Anda dapat juga menghubungi profesor dari perguruan tinggi yang bersangkutan. Sangat lazim seorang profesor mencari mahasiswa untuk membantu penelitiannya. Profesor biasanya menjadi salah satu orang yang ikut menentukan diterima atau tidaknya calon mahasiswa. Biasanya, admission office akan menanyakan kesediaan profesor yang bersangkutan karena ini terkait dengan masalah penelitian. Jadi, jika kita sudah menghubungi profesor yang bersangkutan, biasanya lebih mudah untuk diterima.

3. Lain-Lain
Kita juga dapat mengambil informasi dari sumber lain mengenai perguruan tinggi yang ingin dituju, seperti melalui Internet, majalah, buku, dan informasi-informasi dari sumber lain ini dapat membantu anda dalam menentukan pilihan perguruan tinggi yang ingin dituju.

Memilih Tempat S2 dan S3

Ada banyak pilihan untuk pendidikan S2 di luar negeri. Pendidikan S2 biasanya singkat dan tidak terlalu membutuhkan fasilitas penelitian yang hebat. Biasanya S2 ini merupakan langkah (stepping stone) untuk shopping ke S3. Pada masa S2 ini anda bisa melihat-lihat kualitas S3 di tempat anda, atau mengintip di tempat lain. S2 merupakan tempat untuk menunjukkan diri anda agar anda diajak untuk melanjutkan ke S3 oleh profesor setempat (atau tempat lain).
Untuk menyelesaikan S3, anda harus merencanakan kehidupan anda (misalnya kapan menikah, kapan punya anak, dan seterusnya) karena ini akan berpengaruh.

Mencari Beasiswa

Carilah informasi beasiswa melalui Universitas atau Institusi lain yang ada di tempat anda, atau melalui internet. Ada juga beasiswa (scholarship) yang nantinya bisa diperoleh dari perguruan tinggi setempat. Selain itu ada juga beasiswa yang berbasis kepada prestasi mahasiswa.  Untuk mendapatkan biaya, umumnya di kampus boleh bekerja, tapi perhatikan ijin setempat dan jangan melanggar ijin yang membahayakan status kemahasiswaan anda. Selain support dari kampus, ada juga kesempatan untuk mendapat bantuan pendanaan dari perusahaan (industri).

II.Hidup Di Luar Negeri

Selain belajar di kampus, ada baiknya anda mempelajari kultur setempat dengan banyak bergaul bersama penduduk setempat. Bergaul dengan penduduk setempat memang bukan hal yang mudah karena banyak perbedaan kultur. Namun hal ini seharusnya tidak menjadi masalah yang besar. Paling-paling ada kelucuan yang timbul karena salah pengertian. Ini bahkan dapat menjadi kenangan yang indah (atau memalukan yang membuat kita tertawa) di kemudian hari.

Memilih tempat tinggal

Sebaiknya cari tempat tinggal yang dekat dengan kampus. Informasi tempat tinggal ini bisa diperoleh dari kampus, melalui student
center, melalui pengumuman-pengumuman yang terpasang di papan (board), atau cara lain yang efektif adalah menanyakan kepada mahasiswa lain yang sudah lama bersekolah di kampus tersebut.

Dormitory (Asrama)
Salah satu tempat yang paling dekat dengan kampus adalah asrama (dormitory). Bahkan, biasanya dorm ini letaknya di dalam kampus. Biasanya dorm mahal biayanya, namun ada juga ketidak-nyamanan tinggal di dorm karena fasilitas di dorm dibuat sangat efisien untuk menampung mahasiswa sebanyak-banyaknya.

Apartemen
Kebanyakan mahasiswa tinggal di apartemen yang letaknya tidak jauh dari kampus. Apartemen lebih disukai karena lebih fleksibel dan bebas dalam penggunaannya. Kesulitan  dalam tinggal di apartemen adalah mencari teman yang cocok untuk tinggal bersama. Sifat-sifat yang bertentangan dapat membuat masalah tinggal di apartemen. Secara biaya, tinggal di apartemen biasanya lebih murah daripada tinggal di dorm di kampus. Selain itu, kebebasannya sangat tinggi.

Basement di rumah
Di beberapa tempat, umumnya dekat kampus, ada juga orang yang menyewakan kamar di basementnya untuk tempat tinggal (kost). Biasanya basement ini memiliki satu atau dua kamar yang bisa disewakan kepada mahasiswa. Umumnya fasilitasnya sangat terbatas yaitu kamar, kamar mandi, dan dapur kecil. Biaya kamar di basement ini bisa lebih murah daripada di apartemen. Akan tetapi kebebasan tinggal di basement ini sangat terbatas sekali.

Pergaulan Sehari-hari
Perbedaan kultur dan pengetahuan seringkali menjadi masalah dalam pergaulan sehari-hari. Saya usulkan agar anda bergaul dengan penduduk setempat untuk mempelajari kultur setempat sehingga anda mengerti mana yang baik dan mana yang buruk.

III. Setelah Selesai Kuliah

Setelah selesai S2 dan S3, saya menyarankan agar anda mencoba bekerja di tempat anda. Bergantung kepada aturan imigrasi setempat, biasanya hal ini diperkenankan. Setelah S3 biasanya ada program post doctoral, yaitu bekerja di kampus, di tempat penelitian, atau di industri. Kesempatan post doctoral juga dapat digunakan sebagai entry untuk menjadi staf di tempat tersebut.

Kesuksesan bersekolah di luar negeri bergantung kepada persiapan kita sebelum berangkat. Memilih perguruan tinggi yang tepat, misalnya, sangat penting. Tulisan ini bisa membantu anda dalam mempersiapkan diri untuk belajar di luar negeri agar anda sukses bersekolah di luar negeri.